Suhardiman
Jum'at, 22 Mei 2026 | 11:27 WIB
Seorang warga sedang melintas di atas jembatan darurat yang amblas dihantam banjir. [Antara]
Baca 10 detik
  • Banjir melanda Desa Bandar Tarutung, Tapanuli Selatan, pada Kamis, 21 Mei 2026, menyebabkan kerusakan jembatan dan permukiman warga.
  • Hujan deras mengakibatkan Sungai Batang Toru meluap dan menghancurkan jembatan darurat serta menutup jalan dengan tumpukan lumpur tebal.
  • Pihak desa mendesak pemerintah segera melakukan normalisasi sedimentasi Sungai Batang Toru untuk mencegah banjir yang terus berulang.

SuaraSumut.id - Banjir yang melanda Desa Bandar Tarutung, Kecamatan Angkola Sangkunur, Kabupaten Tapanuli Selatan, mulai surut.

Namun, bencana itu meninggalkan jejak, yaitu kerusakan infrastruktur dan tumpukan lumpur di sejumlah titik permukiman warga.

Satu unit jembatan darurat di Kampung Cemara, Desa Bandar Tarutung, dilaporkan amblas diterjang banjir pada Kamis, 21 Mei 2026.

Jembatan sepanjang sekitar tujuh meter dengan lebar lima meter itu diketahui dibangun secara swadaya oleh masyarakat pascabanjir bandang pada 25 November 2025.

Kepala Desa Bandar Tarutung mengatakan, tidak ada korban jiwa dalam bencana tersebut. Warga yang sempat mengungsi telah kembali ke rumah untuk membersihkan material lumpur.

“Jembatan darurat di Kampung Cemara amblas dihantam air bah akibat hujan deras yang melanda wilayah ini,” katanya, melansir Antara, Jumat, 22 Mei 2026.

Akses menuju Desa Bandar Tarutung saat ini masih mengalami kendala karena sejumlah ruas jalan utama tertutup lumpur dengan ketebalan cukup tinggi.

“Selain jembatan putus di Cemara, lumpur yang menutupi ruas jalan lumayan tebal, ada yang mencapai satu meter seperti di Kampung Malako,” ujarnya.

Menurut Sulhan, Desa Bandar Tarutung kini menjadi kawasan yang rawan banjir sejak terjadinya banjir bandang beberapa bulan lalu.

Tingginya sedimentasi di bantaran Sungai Batang Toru disebut menjadi salah satu penyebab utama sungai mudah meluap saat hujan turun.

“Jangankan berjam-jam, sebentar saja turun hujan lebat, permukaan Sungai Batang Toru cepat naik lalu meluap dan merendam permukiman warga,” katanya.

Ia menambahkan, kondisi semakin parah setelah tanggul Sungai Batang Toru yang mengarah ke permukiman warga jebol dan membentuk aliran baru menyerupai anak sungai dengan lebar lebih dari 50 meter.

Pihak desa berharap pemerintah segera melakukan normalisasi sedimentasi Sungai Batang Toru guna mencegah banjir terus berulang dan mengancam keselamatan warga.

Load More