Suhardiman
Jum'at, 20 Februari 2026 | 14:05 WIB
Umat Islam melaksanakan ibadah Salat Tarawih di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (18/2/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Muhammadiyah melaksanakan tarawih 11 rakaat (8 tarawih dan 3 witir) berdasarkan hadis praktik langsung Rasulullah SAW.
  • Nahdlatul Ulama umumnya melaksanakan 23 rakaat (20 tarawih dan 3 witir) mengacu praktik sahabat era Umar bin Khattab.
  • Perbedaan jumlah rakaat ini bersumber dari metode istinbath hukum berbeda antara kedua organisasi Islam tersebut.

SuaraSumut.id - Perbedaan jumlah rakaat salat tarawih antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) selalu menjadi pembahasan menarik setiap bulan Ramadan. Muhammadiyah menetapkan 11 rakaat, sedangkan NU umumnya melaksanakan 23 rakaat.

Perbedaan ini bukan sekadar variasi teknis, tetapi berkaitan dengan metode istinbath hukum (penggalian hukum) yang berbeda dalam tradisi fikih Islam.

Muhammadiyah: Tarawih 11 Rakaat

Melansir situs FMIPA Unesa, Muhammadiyah menetapkan salat tarawih 11 rakaat, yang terdiri dari 8 rakaat tarawih dan 3 rakaat witir. Dasar utamanya adalah hadis dari Aisyah r.a yang tercantum dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim.

Dalam riwayat tersebut disebutkan bahwa Rasulullah tidak pernah menambah salat malam lebih dari sebelas rakaat, baik di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan. Muhammadiyah memahami tarawih sebagai bagian dari qiyamul lail, sehingga jumlah rakaatnya mengikuti praktik langsung Nabi.

Nahdlatul Ulama: Tarawih 23 Rakaat

Berbeda dengan Muhammadiyah, NU melaksanakan 23 rakaat, terdiri dari 20 rakaat tarawih dan 3 rakaat witir. Rujukan utamanya adalah praktik para sahabat pada masa Khalifah Umar bin Khattab.

Riwayat tentang pelaksanaan 20 rakaat ini antara lain terdapat dalam Al-Muwatta karya Imam Malik. Umar mengumpulkan kaum Muslimin untuk melaksanakan tarawih berjamaah dengan jumlah tersebut, dan praktik ini diterima luas oleh para sahabat tanpa penolakan.

NU juga berpegang pada hadis yang diriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud yang menganjurkan umat Islam mengikuti sunnah Nabi dan Khulafaur Rasyidin.

NU memandang praktik tersebut sebagai bagian dari sunnah Khulafaur Rasyidin dan telah menjadi kesepakatan para sahabat (ijma’), serta diperkuat oleh pendapat mayoritas ulama mazhab, khususnya mazhab Syafi’i.

Perbedaan Metode, Bukan Soal Benar atau Salah

Perbedaan jumlah rakaat tarawih antara Muhammadiyah dan NU bukanlah persoalan benar atau salah, melainkan perbedaan dalam metode pengambilan hukum (ijtihad).

  • Muhammadiyah lebih menekankan praktik Nabi secara langsung berdasarkan hadis.
  • NU menekankan praktik sahabat dan tradisi mazhab fikih yang berkembang dalam sejarah Islam.

Dalam khazanah fikih Islam, perbedaan seperti ini termasuk wilayah khilafiyah yang dibenarkan. Umat Islam dapat menjalankan salah satu pendapat dengan tetap menjaga sikap saling menghormati.

Perbedaan jumlah rakaat sholat tarawih Muhammadiyah dan NU menunjukkan kekayaan khazanah fikih Islam. Muhammadiyah menetapkan 11 rakaat, sedangkan NU melaksanakan 23 rakaat. Keduanya memiliki dasar dalil yang kuat dan telah dipraktikkan secara luas di Indonesia.

Dengan memahami landasan masing-masing, umat Islam diharapkan dapat menyikapi perbedaan ini dengan bijak dan tetap menjaga persatuan selama bulan suci Ramadan.

Load More