Suhardiman
Selasa, 03 Maret 2026 | 14:42 WIB
Ilustrasi Gerhana Bulan Total. (freepik)
Baca 10 detik
  • Umat Islam dianjurkan melaksanakan salat sunnah gerhana bulan (*khusuful qamar*) dengan mengeraskan bacaan saat gerhana terjadi.
  • Amalan penting lainnya meliputi memperbanyak doa, takbir, dan bersedekah karena hati lebih dekat kepada Allah saat fenomena tersebut.
  • Selain itu, dianjurkan pula memperbanyak sedekah dan melakukan berbagai bentuk kebaikan lainnya selama gerhana berlangsung.

SuaraSumut.id - Fenomena alam berupa gerhana bulan total akan terjadi hari ini, Selasa, 3 Maret 2026. Amalan-amalan saat gerhana bulan pun dianjurkan untuk umat Islam.

Lantas, apa saja amalan-amalan yang dianjurkan dalam Islam ketika terjadi gerhana bulan? Simak penjelasan berikut ini.

Shalat Sunnah Gerhana Bulan

Melansir situs NU Online, amalan pertama yang sangat dianjurkan adalah melaksanakan shalat sunnah gerhana bulan, atau yang dalam istilah fiqih dikenal dengan istilah khusuful qamar. Para ulama menjelaskan bahwa salat ini hukumnya sunnah muakkadah, yaitu sangat dianjurkan dalam Islam dan senantiasa dilakukan oleh Rasulullah ketika terjadi gerhana. Hal ini sebagaimana penjelasan Syekh Zakaria al-Anshari, dalam salah satu karyanya ia mengatakan:

هِيَ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ لِلْكُسُوفَيْنِ لِذَلِكَ، وَلِأَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَلَهَا لِكُسُوفِ الشَّمْسِ كَمَا رَوَاهُ الشَّيْخَانِ، وَلِخُسُوفِ الْقَمَرِ كَمَا رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ

Artinya, “Shalat gerhana itu hukumnya sunnah muakkadah untuk dua gerhana (matahari dan bulan). Hal itu karena Nabi Muhammad melaksanakannya ketika terjadi gerhana matahari sebagaimana diriwayatkan oleh dua imam (Bukhari dan Muslim), dan juga ketika terjadi gerhana bulan sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Hibban.” (Asnal Mathalib fi Syarhi Raudh Thalib, [Beirut: Darul Kutub Ilmiah, 1422 H], jilid I, halaman 285).

Shalat gerhana bulan disunnahkan untuk dikeraskan bacaannya (jahr), karena ia tergolong dalam shalat-shalat sunnah yang dilaksanakan pada malam hari. Hal ini berbeda dengan shalat gerhana matahari yang bacaannya disunnahkan untuk dipelankan (sirr), karena dilaksanakan pada siang hari.

Sedangkan waktu disunnahkannya shalat gerhana bulan dimulai sejak terjadinya perubahan pada bulan, yaitu sejak awal gerhana sebagian hingga bulan kembali normal seperti semula. Dengan kata lain, shalat gerhana bulan dilaksanakan selama masih terjadi gerhana, dan berakhir ketika gerhana telah selesai. (Al-Bujairami, Tuhfatul Habib ‘ala Syarhil Khatib, [Beirut: Darul Kutub Ilmiah, 1996 M], jilid I, halaman 371).

Memperbanyak Doa

Selain shalat, amalan lain yang sangat dianjurkan ketika terjadi gerhana bulan adalah memperbanyak doa. Rasulullah dalam salah satu haditsnya memerintahkan (baca: sunnah) kita  untuk memperbanyak doa ketika terjadi gerhana bulan, sebagaimana ditegaskan dalam riwayat yang berasal dari Sayyidah Aisyah, Nabi bersabda:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آياتِ اللهِ، لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذلِكَ فَادْعُوا اللهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا

Artinya, “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang dan tidak pula karena kelahirannya. Maka apabila kalian melihat peristiwa itu, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, dirikanlah shalat, dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari).

Mengutip penjelasan Syekh Muhammad Ali al-Qari, dianjurkannya memperbanyak doa ketika terjadi gerhana bulan adalah karena ketika menyaksikan fenomena yang luar biasa ini, hati manusia cenderung berpaling dari urusan duniawi dan lebih terarah kepada Allah. Pada momen seperti ini, jiwa menjadi lebih khusyuk menghadap kepada-Nya, sehingga doa-doa yang dipanjatkan pun memiliki peluang lebih besar untuk dikabulkan. Simak penjelasannya berikut ini:

إِنَّمَا أُمِرَ بِالدُّعَاءِ لِأَنَّ النُّفُوسَ عِنْدَ مُشَاهَدَةِ مَا هُوَ خَارِقٌ لِلْعَادَةِ تَكُونُ مُعْرِضَةً عَنِ الدُّنْيَا وَمُتَوَجِّهَةً إِلَى الْحَضْرَةِ الْعُلْيَا فَتَكُونُ أَقْرَبَ إِلَى الْإِجَابَةِ

Artinya, “Sesungguhnya diperintahkan untuk berdoa (ketika gerhana) karena jiwa-jiwa manusia ketika menyaksikan sesuatu yang luar biasa akan cenderung berpaling dari urusan dunia dan menghadap kepada Allah Yang Maha Tinggi, sehingga doa tersebut lebih dekat untuk dikabulkan.” (Mirqatul Mafatih Syarh Misykatil Mashabih, [Beirut: Darul Fikr, 2002 M], jilid V, halaman 195).

Memperbanyak Membaca Takbir

Sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat Bukhari di atas, anjuran lain ketika terjadi gerhana bulan adalah dengan memperbanyak membaca takbir, seperti mengucapkan kalimat “Allahu Akbar”. Memperbanyak takbir merupakan cara untuk mengagungkan Allah, mengakui kebesaran-Nya, serta menyadari betapa kecilnya kita di hadapan-Nya.

Selain itu, memperbanyak membaca takbir menurut Syekh Muhammad Ali al-Qari dapat memadamkan murka Allah. Karena itu, memperbanyak takbir ketika terjadi gerhana bulan atau gerhana matahari sangat dianjurkan. Simak penjelasan berikut ini:

وَكَبِّرُوا أَيْ عَظِّمُوا الرَّبَّ أَوْ قُولُوا اللهُ أَكْبَرُ فَإِنَّهُ يُطْفِئُ نَارَ الرَّبِّ

Artinya, “Dan bertakbirlah, maksudnya agungkanlah Tuhan atau ucapkanlah ‘Allahu Akbar’, karena sesungguhnya ucapan itu dapat memadamkan murka Tuhan.” (Ali al-Qari, V/195).

Memperbanyak Sedekah

Selain amalan-amalan sunnah yang telah disebutkan di atas, amalan lain yang sangat dianjurkan ketika terjadi gerhana bulan adalah memperbanyak sedekah. Sedekah merupakan wujud kepedulian terhadap sesama, sekaligus sebagai bentuk syukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah. Sedekah dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, baik berupa uang, makanan, pakaian, atau bantuan lainnya yang bermanfaat bagi orang yang membutuhkan.

Merujuk penjelasan Syekh Nawawi Banten, memperbanyak sedekah ketika terjadi gerhana merupakan salah satu perbuatan yang sangat dianjurkan, dalam salah satu karyanya ia berkata:

وَيُسَنُّ الْإِكْثَارُ مِنَ الصَّدَقَةِ فِي رَمَضَانَ، لَا سِيَّمَا فِي عَشْرِهِ الْأَوَاخِرِ، وَأَمَامَ الْحَاجَاتِ، وَعِنْدَ كُسُوفٍ وَمَرَضٍ وَحَجٍّ وَجِهَادٍ، وَفِي أَزْمِنَةٍ وَأَمْكِنَةٍ فَاضِلَةٍ

Artinya, “Disunnahkan untuk memperbanyak sedekah pada bulan Ramadhan, terutama pada sepuluh hari terakhirnya, juga di saat ada kebutuhan, ketika terjadi gerhana, sakit, haji, dan jihad, serta pada waktu-waktu dan tempat-tempat yang mulia.” (Nihayatuz Zain, [Beirut: Darul Fikr, t.t], halaman 183).

Memperbanyak Melakukan Kebaikan

Selain amalan-amalan yang telah disebutkan, kita juga dianjurkan untuk memperbanyak melakukan kebaikan lainnya ketika terjadi gerhana bulan. Misalnya dengan membaca Al-Qur’an, merenungi makna ayat-ayatnya, berzikir, bershalawat, membantu orang lain, atau melakukan amalan-amalan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat.

Hadits riwayat Bukhari di atas secara umum menganjurkan kita untuk melakukan berbagai macam kebaikan, terutama sedekah yang manfaatnya bisa dirasakan oleh banyak orang. Penjelasan ini sebagaimana disampaikan oleh Syekh Badruddin al-Aini al-Hanafi, dalam salah satu karyanya mengatakan:

وَفِيهِ التَّحْرِيضُ عَلَى فِعْلِ الْخَيْرَاتِ وَلَا سِيَّمَا الصَّدَقَةُ الَّتِي نَفْعُهَا مُتَعَدٍّ وَفِيهِ عِظَةُ الْإِمَامِ عِنْدَ الْآيَاتِ وَأَمْرُهُمْ بِأَعْمَالِ الْبِرِّ

Artinya, “Di dalam hadits tersebut terdapat dorongan untuk melakukan berbagai kebaikan, terutama sedekah yang manfaatnya dirasakan oleh orang lain.” (Umdatul Qari Syarh Shahihil Bukhari, [Beirut: Darul Fikr, t.t], jilid XI, halaman 18).

Demikianlah beberapa amalan yang dianjurkan ketika terjadi gerhana bulan, mulai dari shalat sunnah gerhana, memperbanyak doa, membaca takbir, bersedekah, hingga melakukan berbagai kebaikan lainnya. Mari jadikan fenomena gerhana bulan ini sebagai momentum untuk meningkatkan ketakwaan, sehingga momen ini tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga sarana untuk meningkatkan keimanan dan mendekatkan diri kepada Allah.

Load More