- Kejari Banda Aceh menetapkan dua terpidana kasus TPPU dan perbankan, SBR dan SHABS, sebagai DPO sejak Desember 2021.
- Mahkamah Agung menjatuhkan hukuman penjara masing-masing 12 tahun dan 10 tahun atas perbuatan pidana yang telah inkrah.
- Tim Tabur Kejaksaan terus melacak keberadaan kedua terpidana yang diduga telah meninggalkan wilayah Kota Banda Aceh tersebut.
SuaraSumut.id - Dua terpidana yang terlibat dalam kasus tindak pidana pencucian uang (TPPU) dan perbankan masuk daftar pencarian orang (DPO) Kejari Banda Aceh.
Keduanya belum menjalani eksekusi hukuman meskipun putusan pengadilan telah berkekuatan hukum tetap.
Kedua terpidana berinisial SBR (30) dan SHABS (33) Mereka diputus bersalah di Pengadilan Negeri Banda Aceh pada Desember 2021 berstatus suami istri.
Kepala Seksi Intelijen Kejari Banda Aceh Muhammad Kadafi mengatakan, berdasarkan putusan Mahkamah Agung, SBR dipidana 12 tahun penjara serta denda Rp5 miliar subsidair enam bulan kurungan.
"Sedangkan SHABS dipidana selama 10 tahun penjara serta denda Rp3 miliar dengan subsidair atau hukuman pengganti jika tidak membayar selama enam bulan kurungan," katanya melansir Antara, Kamis, 9 April 2026.
Kadafi mengatakan bahwa kedua terpidana masuk DPO setelah berulang kali dipanggil secara patut untuk menjalani eksekusi hukuman.
"Hukuman berdasarkan putusan Mahkamah Agung RI yang sudah inkrah atau memiliki keputusan hukum tetap," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa tim Tangkap Buronan (Tabur) kejaksaan masih terus melakukan pencarian terhadap dua terpidana tersebut.
"Tim tabur kejaksaan secara berkelanjutan mencari dan berupaya mengamankan para terpidana sebagai bagian dari pelaksanaan tugas dan fungsi penegakan hukum serta dalam rangka memberikan kepastian hukum," katanya.
Berdasarkan hasil pemantauan dan penelusuran tim tabur kejaksaan, diketahui kedua terpidana tidak lagi berada pada alamat terakhir yang tercatat di wilayah Kota Banda Aceh. Kedua terpidana diduga berada di luar wilayah Provinsi Aceh.
Pihaknya mengimbau masyarakat yang mengetahui keberadaan kedua terpidana segera melaporkannya kepada aparat penegak hukum terdekat guna menjalani masa hukuman berdasarkan putusan kasasi Mahkamah Agung.
"Kami juga mengingatkan kepada para terpidana bersikap kooperatif dengan segera menyerahkan diri guna mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku," katanya.
Berita Terkait
-
Dari Menabung hingga Pantau Emisi Karbon, Inovasi Baru Perbankan Digital
-
Penyelundupan Baby Lobster Rp5,8 Miliar Terungkap, Dua Kurir Mengaku Sudah 10 Kali Beraksi
-
Prospek Perbankan 2027, Analis Soroti Kesenjangan Pendanaan Rp440 Triliun dan MSCI
-
Ramainya Bisnis Kuliner Jadi Peluang Perbankan Perluas Transaksi Digital
-
Syariah Card Bank Mega Syariah Tumbuh 73,06 Persen, Dukung Gaya Hidup Halal
Terpopuler
- Mudah, Ini Cara Menghentikan Spam Call di HP Android dan iPhone
- Pengamat Nilai Manuver KSP Listyo Bongkar Hambatan Birokrasi Jadi Investasi Jangka Panjang
- Pengacara Kamaruddin Simanjuntak Sakit Apa? Meninggal Dunia di Usia 52 Tahun
- 5 Rekomendasi Sepatu untuk Jalan Kaki 20 Ribu Langkah, Empuk dan Tidak Cepat Pegal
- Cara Menggunakan Minyak Zaitun Mustika Ratu untuk Wajah dan Rambut
Pilihan
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
-
Polisi Bunuh Polisi karena Bully, Bharatu Valdo 4 Kali Didor dan Digorok Junior
-
Kamaruddin Simanjuntak Pengacara Brigadir J Meninggal Dunia di RS Pelni
Terkini
-
Kodam Benarkan Prajurit TNI dari Kodim Langkat Ditangkap Terkait 47 Kg Sabu di Pekanbaru
-
Sambut HUT ke-131, BRI Perkuat Komitmen Memajukan Negeri
-
BNNP Sumut Gerebek Toko Roti di Medan Diduga Edarkan Sabu, 1 Orang Ditangkap
-
Mahasiswa ISTP Diajak Memahami Praktik Tambang yang Bertanggung Jawab
-
Sindikat Judi Online Kamboja di Medan Dibongkar, 5 Orang Ditangkap