- Jajaran direksi Bank BCA melakukan aksi borong saham senilai miliaran rupiah sepanjang awal tahun 2026.
- Langkah manajemen tersebut menunjukkan keyakinan tinggi terhadap prospek jangka panjang dan fundamental perusahaan yang kuat.
- Analisis pasar menunjukkan valuasi BBCA saat ini masih murah sehingga berpotensi mencapai harga Rp10.000 per lembar.
SuaraSumut.id - Aksi borong saham BBCA yang dilakukan oleh jajaran direksi memberi sinyal kuat di tengah fluktuasi pasar awal 2026. Saat sebagian investor memilih menunggu, manajemen perusahaan justru mengucurkan dana miliaran rupiah untuk menambah kepemilikan.
Langkah ini menjadi bukti kuat bahwa pihak yang paling memahami kondisi “dapur” perusahaan memiliki keyakinan tinggi terhadap prospek jangka panjang BCA.
Data kuartal I 2026 menunjukkan sejumlah nama di manajemen aktif membeli saham. Wakil Presiden Direktur John Kosasih membeli saham senilai Rp4,37 miliar. Direktur Vera Eve Lim menambah kepemilikan Rp3,84 miliar dan Santoso mengamankan saham Rp3,46 miliar.
Aksi serupa juga dilakukan Hendra Lembong dengan nilai hingga Rp7,93 miliar. Di sisi lain, Managing Director Frenkie Candra Kusuma mengakumulasi saham Rp2,87 miliar sejak 2025. Direktur Lianawaty Suwono memborong 300.000 saham senilai Rp2,1 miliar di akhir Januari 2026.
Pengamat pasar modal Rendy Yefta mangatakan, saat ini saham BBCA hanya diperdagangkan di kisaran PER sekitar 15 kali.
"Artinya, investor hanya membayar 15 tahun laba untuk memiliki bank terbesar, paling efisien, dan paling konsisten mencetak keuntungan di Indonesia," katanya.
Sebagai perbandingan, saham ARTO diperdagangkan di sekitar PER 64 kali. Dengan kata lain, investor harus membayar valuasi lebih dari 4 kali lebih mahal dibanding BBCA untuk setiap Rp1 laba yang dihasilkan.
Perbedaan harga makin kontras jika melihat kemampuan mencetak laba. BCA secara konsisten mencetak keuntungan puluhan triliun rupiah dengan pertumbuhan stabil.
Jika BBCA kembali dihargai sedikit lebih tinggi, misalnya PER 18–20 kali seperti rata-rata historisnya, maka harga sahamnya berpotensi naik signifikan dari level sekarang.
Target menembus Rp10.000 per lembar dalam beberapa bulan menjadi skenario yang sangat realistis. Rekor harga tertinggi saham bahkan sempat menyentuh Rp11.000 per lembar.
Artinya, ruang kenaikan masih terbuka lebar. Risiko relatif kecil karena fundamentalnya sangat kuat, sementara potensi keuntungannya besar karena valuasinya masih terlalu murah.
Berita Terkait
-
Asing Lepas BMRI Rp639 Miliar, BBRI Justru Jadi Buruan
-
Seperti Biasa Investor Ambil Cuan di Akhir Pekan, IHSG Berakhir Ambruk ke 6.100
-
Investor Cari Cuan di Saham Konglo, IHSG Tertekan ke Level 6.200 pada Sesi I
-
IHSG Ambruk ke Level 6.200 Pagi Ini, Cek Saham Migas
-
Investor Masih Senang Ambil Cuan, IHSG Tersungkur ke Level 6.300
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- Siapa Ipda Ambarita? Ini Profil Polisi yang Viral Saat Pengamanan Bentrok Matraman
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Jurnalis-Masyarakat Sipil di Medan Desak Prabowo Minta Maaf Soal Londo Ireng
-
386 Hektare Lahan Sawah di Aceh Jaya Alami Kekeringan
-
30 Lebih Kepala KUA di Sumut Dicopot
-
Viral Pria di Deli Serdang Digeruduk Warga, Diduga Nistakan Agama Lewat Medsos
-
BRIvolution Reignite Kian Agresif, BRI Perluas Kontribusi bagi Perekonomian Nasional