Suhardiman
Minggu, 19 April 2026 | 11:49 WIB
Jajaran Direksi Borong Saham BBCA. [ist]
Baca 10 detik
  • Jajaran direksi Bank BCA melakukan aksi borong saham senilai miliaran rupiah sepanjang awal tahun 2026.
  • Langkah manajemen tersebut menunjukkan keyakinan tinggi terhadap prospek jangka panjang dan fundamental perusahaan yang kuat.
  • Analisis pasar menunjukkan valuasi BBCA saat ini masih murah sehingga berpotensi mencapai harga Rp10.000 per lembar.

SuaraSumut.id - Aksi borong saham BBCA yang dilakukan oleh jajaran direksi memberi sinyal kuat di tengah fluktuasi pasar awal 2026. Saat sebagian investor memilih menunggu, manajemen perusahaan justru mengucurkan dana miliaran rupiah untuk menambah kepemilikan.

Langkah ini menjadi bukti kuat bahwa pihak yang paling memahami kondisi “dapur” perusahaan memiliki keyakinan tinggi terhadap prospek jangka panjang BCA.

Data kuartal I 2026 menunjukkan sejumlah nama di manajemen aktif membeli saham. Wakil Presiden Direktur John Kosasih membeli saham senilai Rp4,37 miliar. Direktur Vera Eve Lim menambah kepemilikan Rp3,84 miliar dan Santoso mengamankan saham Rp3,46 miliar.

Aksi serupa juga dilakukan Hendra Lembong dengan nilai hingga Rp7,93 miliar. Di sisi lain, Managing Director Frenkie Candra Kusuma mengakumulasi saham Rp2,87 miliar sejak 2025. Direktur Lianawaty Suwono memborong 300.000 saham senilai Rp2,1 miliar di akhir Januari 2026.

Pengamat pasar modal Rendy Yefta mangatakan, saat ini saham BBCA hanya diperdagangkan di kisaran PER sekitar 15 kali.

"Artinya, investor hanya membayar 15 tahun laba untuk memiliki bank terbesar, paling efisien, dan paling konsisten mencetak keuntungan di Indonesia," katanya.

Sebagai perbandingan, saham ARTO diperdagangkan di sekitar PER 64 kali. Dengan kata lain, investor harus membayar valuasi lebih dari 4 kali lebih mahal dibanding BBCA untuk setiap Rp1 laba yang dihasilkan.

Perbedaan harga makin kontras jika melihat kemampuan mencetak laba. BCA secara konsisten mencetak keuntungan puluhan triliun rupiah dengan pertumbuhan stabil.

Jika BBCA kembali dihargai sedikit lebih tinggi, misalnya PER 18–20 kali seperti rata-rata historisnya, maka harga sahamnya berpotensi naik signifikan dari level sekarang.

Target menembus Rp10.000 per lembar dalam beberapa bulan menjadi skenario yang sangat realistis. Rekor harga tertinggi saham bahkan sempat menyentuh Rp11.000 per lembar.

Artinya, ruang kenaikan masih terbuka lebar. Risiko relatif kecil karena fundamentalnya sangat kuat, sementara potensi keuntungannya besar karena valuasinya masih terlalu murah.

Load More