- dr. Adelina Haryono menekankan pentingnya kecukupan hidrasi harian untuk menjaga fungsi tubuh tanpa menunggu rasa haus muncul.
- Program edukasi Aqua di berbagai rumah sakit Jakarta menyoroti pentingnya memilih sumber air minum yang aman dan berkualitas.
- Konsumsi air terkontaminasi bakteri E. coli berisiko meningkatkan stunting serta mengganggu tumbuh kembang dan performa akademik anak.
SuaraSumut.id - Hingga saat masih banyak masyarakat yang belum menyadari pentingnya kecukupan air minum harian. Banyak yang merasa sudah cukup minum, padahal faktanya masih banyak masyarakat yang mengalami kekurangan cairan.
Padahal, tubuh terdiri dari sekitar 50-60 persen air yang berperan penting dalam hampir seluruh fungsi tubuh, mulai dari pembentukan sel hingga menjaga keseimbangan cairan.
Menurut Dokter Spesialis Gizi Klinis RS Mitra Keluarga Bintaro dr. Adelina Haryono, Sp.GK, AIFO-K, kebutuhan cairan berbeda-beda. Tetapi secara umum anak membutuhkan sekitar 1,2-1,5 liter per hari. Sedangkan orang dewasa sekitar 1,8 – 2 liter per hari.
"Sekitar 1 dari 5 anak dan remaja serta 1 dari 4 orang dewasa masih belum cukup minum air. Untuk itu yang terpenting jangan menunggu haus untuk minum." kata Adelina dalam paparannya pada program 'Aqua Goes to Hospital: Langkah Sehat Keluarga Adem', kemarin.
Mengangkat tema "Langkah Kecil, Dampak Besar: Tips Pilih Hidrasi Terbaik untuk Keluarga", program ini menghadirkan edukasi langsung dari para ahli mengenai cara memilih air minum yang aman dan berkualitas, aktivitas edukatif, hingga interaksi langsung dengan para ibu sebagai pengambil keputusan kesehatan di rumah.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian edukasi kesehatan keluarga yang akan berlangsung di berbagai rumah sakit besar di Jakarta dan sekitarnya sepanjang April hingga Desember 2026.
dr. Tria Rosemiarti, Dipl in Nutrition, MKK, Nutrition Design & Hydration Science Research and Innovation Aqua, menyebut bahwa keamanan air minum masih menjadi tantangan di Indonesia.
"Masih banyak sumber air yang berisiko tercemar. Data dari Studi Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT) menunjukkan bahwa 7 dari 10 rumah tangga di Indonesia masih mengonsumsi air yang terkontaminasi E. coli, dan hanya sebagian kecil yang memiliki akses air minum aman," ujarnya.
Ia menambahkan, merebus air memang bisa membunuh sebagian besar bakteri, tetapi tidak menghilangkan logam berat ataupun senyawa lain yang mungkin ada di dalam air, terlebih jika kualitas sumber airnya tidak terjaga kualitasnya.
Dia menjelaskan, konsumsi terhadap air yang tidak terjaga kualitas sumbernya akan sangat berdampak pada tumbuh kembang anak.
"Hasil publikasi terbaru dari yang diterbitkan di Internasional Jurnal, mengungkapkan bahwa anak yang rutin terpapar air minum yang tidak aman dan mengandung kontaminasi mikrobiologis air, khususnya oleh bakteri Escherichia coli, meningkatkan risiko stunting hingga 4,14 kali," ucapnya.
Temuan ini mencakup data dari beberapa wilayah Indonesia, termasuk penelitian komprehensif di 13 provinsi dan studi lapangan di Deli Serdang, Sumatera Utara. Kondisi ini berpotensi berdampak pada gangguan penyerapan nutrisi dan tumbuh kembang yang juga berpengaruh pada tinggi badan, daya ingat, kemampuan bahasa, dan performa akademik anak pada usia sekolah.
Almiranti Fira, sebagai ibu bijak Aqua, menekankan bahwa peran ibu sangat krusial dalam membentuk kebiasaan hidrasi keluarga.
“Di rumah, ibu itu ibarat ‘menteri kesehatan’ bagi keluarga. Pilihan sederhana seperti air minum ternyata punya dampak besar, karena anak-anak akan meniru kebiasaan orang tuanya setiap hari," ungkapnya
Fira juga membagikan tips praktis agar keluarga terbiasa minum air putih tanpa dipaksa. Mulai dari hal kecil, pastikan air mudah dijangkau, biasakan minum di waktu-waktu tertentu, dan yang paling penting, orang tua harus memberi contoh. Kebiasaan baik itu dibangun, bukan dipaksa.
Berita Terkait
-
Layanan Bedah Jantung Hadir di Ciayumajakuning Tandai HUT ke-23 Mitra Plumbon
-
Terorisme Lingkungan: Menuju Generasi Emas atau Generasi Cemas?
-
Penelitian Unpad: Beralih Kebiasaan Rokok ke Tembakau Alternatif Hasilkan Perbaikan Kesehatan Mulut
-
Apakah BPJS PBI yang Nonaktif Bisa Diaktifkan Kembali? Ini Langkah-langkahnya
-
Cara Cek BPJS PBI Aktif atau Tidak Lewat HP, Praktis Tak Perlu ke Kantor
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
SIPEF dan KIS Bangun Pabrik BioCNG di Simalungun, Ubah Limbah Sawit Jadi Energi Bersih
-
Imigrasi Kualanamu Pastikan Kelompok Rentan Mendapat Akses Layanan Paspor yang Setara
-
Remaja di Medan Pukul Teman hingga Tewas Gegara Kesal Dimaki
-
Pengiriman 144 Balpres Ilegal dari Bandung ke Medan Digagalkan
-
Tembok Basah Padahal Tidak Hujan? Coba Cek Kondisi AC