Suhardiman
Jum'at, 30 Oktober 2026 | 20:40 WIB
Groundbreaking Pabrik BioCNG di Bukit Maradja, Simalungun. [Ist]
Baca 10 detik
  • Tolan Tiga Indonesia bersama SIPEF dan KIS membangun pabrik BioCNG di Simalungun pada Kamis, 29 Oktober 2026.
  • Fasilitas tersebut mengolah limbah cair kelapa sawit menjadi energi terbarukan untuk menggantikan gas alam berbasis fosil.
  • Proyek ini menghasilkan 99.997 MMBTU BioCNG per tahun yang dibeli oleh Unilever Oleochemical Indonesia untuk mengurangi emisi.

SuaraSumut.id - Tolan Tiga Indonesia bersama SIPEF Group dan PT KIS Biofuels Indonesia membangun fasilitas pengolahan BioCompressed Natural Gas (BioCNG) di Pabrik Kelapa Sawit Bukit Maradja, Kecamatan Gunung Malela, Kabupaten Simalungun.

Pembangunan fasilitas tersebut ditandai dengan peletakan batu pertama (groundbreaking) pada Kamis (29/10/2026). Proyek ini menjadi fasilitas BioCNG ketiga yang dikembangkan SIPEF Group di Indonesia dan proyek ketujuh bagi KIS Group.

Sejumlah pimpinan perusahaan dan perwakilan pemerintah menghadiri kegiatan tersebut. Di antaranya CEO KIS Group K R Raghunath, Managing Director SIPEF Petra Meekers, President Director SIPEF Indonesia Peter Bayliss, Direktur Unilever Oleochemical Indonesia Yashar Davoodi, serta Direktur Hilirisasi Perkebunan dan Kehutanan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Septria Christina.

CEO KIS Group K R Raghunath mengatakan, pembangunan fasilitas BioCNG di Bukit Maradja merupakan bagian dari upaya mengembangkan energi terbarukan dengan mengoptimalkan limbah hasil pengolahan kelapa sawit.

Melalui penerapan teknologi tersebut, gas metana yang terkandung dalam limbah cair pabrik kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) akan ditangkap dan diproses menjadi BioCNG. Produk energi ini selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pengganti gas alam berbasis fosil.

"Pengembangan proyek ini merupakan bagian dari komitmen SIPEF Group dalam meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya sekaligus memperluas penggunaan energi terbarukan di sektor industri kelapa sawit," ujar Raghunath.

Fasilitas di Bukit Maradja diproyeksikan mampu menghasilkan sekitar 99.997 MMBTU BioCNG setiap tahun. Produksi tersebut diperkirakan dapat menekan emisi gas rumah kaca hingga 49.199 ton setara karbon dioksida (COe) per tahun.

Dalam proyek ini, Unilever Oleochemical Indonesia akan menjadi calon pembeli (offtaker) BioCNG yang dihasilkan. Energi rendah karbon tersebut direncanakan untuk memenuhi sebagian kebutuhan operasional industri sekaligus mendukung agenda pengurangan emisi perusahaan.

Direktur Unilever Oleochemical Indonesia Yashar Davoodi menyatakan, penerapan prinsip keberlanjutan harus diwujudkan melalui langkah nyata dan kolaborasi antarpelaku industri.

Menurutnya, komitmen perusahaan terhadap lingkungan tidak cukup hanya dituangkan dalam target bisnis. Diperlukan implementasi konkret yang mampu memberikan dampak terhadap pengurangan emisi dan penggunaan energi berbasis fosil.

Melalui kerja sama dengan KIS Group dan SIPEF, Unilever berupaya memperbesar pemanfaatan BioCNG sebagai salah satu sumber energi untuk mendukung transformasi industri menuju operasional rendah karbon.

Yashar mengungkapkan, dirinya memiliki komitmen untuk membawa perusahaan yang dipimpinnya mencapai target net zero emission. Kemitraan tersebut dinilai menjadi salah satu langkah penting dalam mewujudkan ambisi itu.

"Secara pribadi, saya memiliki komitmen untuk membawa operasional dan perusahaan yang saya pimpin menuju target net zero emission. Kemitraan ini akan membantu kami mewujudkan target tersebut sebagai sebuah entitas bisnis," katanya.

Ia juga menilai keterlibatan dunia usaha sangat diperlukan dalam mempercepat transisi energi. Menurutnya, perusahaan tidak harus menunggu kebijakan pemerintah atau terbentuknya kerangka kerja berskala besar untuk mulai melakukan perubahan.

Yashar berharap teknologi pengolahan limbah menjadi BioCNG dapat diterapkan secara lebih luas di berbagai daerah, khususnya pada industri pengolahan kelapa sawit di Indonesia.

Load More