alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Syekh Ali Jum'ah: Ada Penceramah Minim Ilmu Tapi Banyak Pengikutnya

Farah Nabilla Minggu, 22 November 2020 | 13:15 WIB

Syekh Ali Jum'ah: Ada Penceramah Minim Ilmu Tapi Banyak Pengikutnya
Syekh Ali Jumah. (Tangkapan layar YouTube/Sanad Media )

"Orang-orang mengira, kemampuan itu melupakan bukti keilmuan tokoh tersebut," ujar Mufti Agung Mesir itu.

SuaraSumut.id - Syekh Ali Jum'ah, seorang Mufti Agung Mesir mengatakan ada banyak orang yang memilih mengikuti beberapa tokoh yang dianggap berilmu padahal tak semua bisa mematangkan ilmunya.

Dengan mengutip beberapa pernyataan dari ulama terdahulu, Ibnu Masud, Syekh Ali Jum'ah menuliskan bahwa populasi orang alim akan semakin sedikit, namun penceramah justru bertambah.

Ia juga mengutip pernyataan Ibnu Al-Jauziyah yang mengatakan bahwa pendakwah yang minim ilmu akan cenderung menceritakan kisah-kisah dibanding mengajarkan agama kepada jemaahnya.

"Ada suatu kaum yang kelihatannya secara lahir cenderung ke ilmu, namun kenyataan mereka tidak mampu mematangkan ilmu itu kecuali sedikit sekali. Mereka mengira diri mereka adalah orang-orang berilmu dan mulia," kata Syekh Ali seperti yang dikuti Hops.id --jaringan Suara.com.

Namun, penceramah model seperti inilah yang disenangi para jemaahnya.

"Orang-orang mengira, kemampuan itu melupakan bukti keilmuan tokoh tersebut," ujarnya.

Syekh Ali juga berpendapat bahwa penceramah seperti yang disebutkan itu banyak yang merasa lebih baik menurut versinya sendiri. Lebih parahnya, tokoh-tokoh itu berani bertindak keras kepada para jemaahnya.

"Mereka berani berdusta mengenai rawi-rawi hadist dan bertindak keras kepada murid-murid mereka. Akibanya, mereka bertentangan dengan ajaran ilmu yang mereka dengarkan dan berlawanan dengan kewajiban yang seharusnya mereka lakukan," imbuhnya.

Kendati Syekh Ali menuangkan pendapat-pendapat tersebut dengan tidak merujuk kepada kaum atau kelompok tokoh tertentu, namun ia menjelaskan bahwa saat ini cukup sulit membedakan tokoh yang benar-benar berilmu atau tidak.

"Akibatnya terjadilah praktek mendahulukan usaha sebelum sadar, mendahulukan pekerjaan sebelum pengetahuan dan memindahkan ilmu agama tidak melalui jalur yang benar," sambungnya.

Ia pun menyarankan agar masyarakat lebih teliti dan berhati-hati lagi dalam menganut pendapat para tokoh.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait