"Saya perintahkan untuk bekerja (penggusuran), ini perintah," tegasnya.
Suasana kembali riuh saat salah seorang emak-emak menangis mengajak Sastra berbicara berharap menghentikan penggusuran sementara waktu.
Keduanya berpelukan di atas ekskavator. Sastra tampak mendengar dengan seksama curahan hati emak-emak.
Satu ekskavator lainnya menyala dan melaju ke rumah warga. Sontak, keluarga pensiunan bersama dengan kuasa hukum menghalau laju ekskavator yang hendak merobohkan rumah warga. Suasana pun berbuah menjadi ricuh.
Baca Juga:Tidak Ada Klaster Baru Covid-19, WSBK Mandalika Sukses Jalankan Protokol Kesehatan
![Penggusuran rumah pensiunan PTPN II. [Suara.com/M.Aribowo]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2021/11/25/89670-penggusuran-rumah-pensiunan-ptpn-ii.jpg)
"Masyarakat dan kuasa hukum dipukul oleh mereka," kata Kuasa Hukum Pensiunan PTPN II, Ali Matondang.
Saat kericuhan terjadi, alat berat terus melaju merobohkan tembok rumah tanpa mempedulikan jerit tangis anak-anak dan orangtua yang meminta agar menunda penggusuran.
"Kalian tidak punya hati, kalian kejam sesama masyarakat," teriak warga.
"Sudah maju terus," kata salah seorang Satpam PTPN II.
Anggota DPRD Deli Serdang turun ke lokasi
Baca Juga:Pamsimas Juga Libatkan Penyandang Disabilitas
Di tengah situasi yang nyaris tidak ada harapan yang dirasakan warga, datang anggota Komisi I DPRD Deli Serdang, Muhammad Adami.