Rinto juga menduga aplikasi perdagangan dikendalikan oleh para pelaku yang telah dilaporkan oleh korban ke Polda Sumut. Setelah deposit Rp 100 juta, kemudian para pelaku meminta uang lagi. Menurut mereka berdasarkan hasil perdagangan investasi emas ternyata hasilnya loss, menandakan dia mengalami kerugian.
"Lalu diberikanlah Rp 100 juta lagi supaya dapat untung, jadi Rp 200 juta. Setelah uang itu diberikan, diminta lagi hingga nilainya mencapai Rp 400 juta," jelasnya.
Korban disebut merasa terjebak hingga saat itu psikologinya jadi terganggu karena sudah kehilangan uang yang cukup besar.
"Saat ini korban sudah merasa tersandera. Karena uangnya sudah tertanam.
Baca Juga:Janji Bayar Upah Lembur Karyawan, FAKTA: Transjakarta Berbohong
Lalu datang bujukan dari pelaku agar uangnya kembali. Harus investasi lagi hingga mencapai Rp 2,1 miliar," jelasnya.
Rinto mengatakan, modus pelaku melakukan penipuan seperti itu. Sedangkan emas fisiknya tidak pernah ada.
"Biar nanti di dalam penyidikan polisi uang itu mengalir ke mana saja. Katanya para pelaku mendapatkan komisi saat mendapat nasabah," tukasnya.