Lelaki kelahiran Pematangsiantar ini juga masuk ke hutan atau melihat ritual ritual budaya yang ada di Sihaporas.
"Aku mencoba untuk kaki ayam (nyeker, tanpa alas kaki), tanpa memakai sepatu atau sandal. Kenapa? Karena aku berpikir, benar nggak ya, aku dijagain? Jawabannnya benar," cetusnya.
"Pada saat aku masuk ke dalam hutan, yang belukarnya luar biasa, tak satu pun ada duri melukai badan maupun kaki ku. Bahkan, satu biji pasir pun tidak ada yang kurasakan sakit terkena kakiku," sambung Guido.
Problematika TPL
Guido menceritakan kisah seorang temannya, bahwa pohon pembatas di lokasi tanah adat Sihaporas ditebang agar pihak TPL tidak menyerang masyarakat.
"Jadi, aku semakin penasaran, ini tempat apa gitu. Aku tidak pernah tahu problematika yang dihadapi Sihaporas, dengan TPL," jelasnya.
"Dan aku mendengar bahwa ada yang ditangkap (polisi) pada malam hari, (22 JUli 2024 pukul 03.00 WIB). Aku ga pernah mendengar hal begini. Dan aku bertanya kenapa bisa ada komunitas Batak yang menderita gitu? Karena setahu aku komunitas Batak selalu berpegangan ya, kalau ada yang susah paling satu atau dua tiga keluarga," katanya.
Ini lain halnya, satu komunitas Sihaporas itu merasa ketakukan dan tertindas. Itulah alasannya Guido berpikir apa yang bisa ia bantu.
"Pikirku. Karena aku nggak bisa melawan PT TPL, karena itu merupakan perusahaan raksasa. Jadi aku menciptakan sebuah karya yang bagaimana seluruh masyarakat bangso Batak bisa melihat keadaannya di situ," tukasnya.