- Yayasan YOSL-OIC merayakan hari jadi ke-25 di Medan pada 17 Juli 2026 dengan meluncurkan otobiografi Panut Hadisiswoyo.
- Buku berjudul Berdiri di Garis Terakhir mengulas dedikasi Panut dalam melindungi ekosistem hutan serta spesies orangutan Sumatra.
- Kegiatan tersebut menegaskan komitmen berkelanjutan yayasan sebagai pengawal pertahanan terakhir untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup di Indonesia.
Rahasia di Balik Layar Peluncuran Otobiografi Pendiri OIC Panut Hadisiswoyo
Tikwan Raya Siregar, selaku penulis buku otobiografi tersebut, secara blak-blakan mengungkapkan tantangan besar yang dihadapinya. Di hadapan para tokoh lingkungan, akademisi, dan media, Tikwan mengaku sempat diselimuti kekhawatiran mendalam saat awal mula menyanggupi proyek penulisan ini.
Bukan tanpa alasan, Tikwan mengaku memiliki pengalaman "traumatik" dengan tokoh-tokoh yang hendak ditulisnya terdahulu.
"Sekitar lima tahun lalu, saya menulis biografi seorang konglomerat Tionghoa terkemuka di Kota Medan. Baru tiga perempat jalan, beliau meninggal dunia di Singapura. Setelah itu, saya diminta menulis biografi keluarga prominent lainnya, keluarga Pak Pinayungan Pasaribu. Pak Panusunan datang kepada saya dan mengatakan saya ingin kisah keluarga saya dituangkan dalam autobiografi. Saya menyanggupi. Baru sepertiga penulisan, beliau juga meninggal dunia dan proyek tidak berlanjut," kenang Tikwan.
Ketakutan itu sempat muncul kembali ketika Panut Hadisiswoyo mendatanginya untuk menuliskan kisah hidupnya selama 25 tahun berkiprah di dunia konservasi.
"Waktu duduk minum kopi, saya tatap dia agak lama. Saya membatin, kalau saya tulis biografi kawan ini, apakah dia akan 'titik-titik' juga (meninggal)? Hampir-hampir saya ragu. Tapi alhamdulillah, Bang Panut terbukti berkali-kali lolos dari masa kritis sejak masa kecilnya, dan hari ini kita bisa meluncurkan buku ini dalam keadaan sehat walafiat," kelakar Tikwan.
Tiga Syarat Mutlak dan Tantangan Menembus Batas Negara
Selain faktor psikologis penulis, Tikwan membeberkan tiga tantangan utama dalam merampungkan buku ini, yaitu masalah penulis, sang tokoh, dan lingkungan sekitar tokoh. Sejak awal, Tikwan mengajukan syarat ketat kepada Panut agar buku ini tidak sekadar menjadi media pemujaan.
"Saya tegaskan, ini bukan buku untuk memuji-muji atau membaik-baikan beliau. Saya tidak tertarik menulis biografi seperti itu. Saya minta Bang Panut memberikan waktu dan harus berterus terang tanpa ada yang ditutupi agar perspektifnya kuat," jelasnya.
Namun, mengikat komitmen waktu dengan seorang aktivis lingkungan internasional ternyata bukan perkara mudah. Proses wawancara kerap tertunda karena mobilitas Panut yang sangat tinggi ke berbagai penjuru dunia.
"Setiap kali saya hubungi untuk wawancara, beliau sedang di NTT, minggu depannya lagi sudah di Prancis memberikan kuliah, lalu ke Jepang, dan keliling Asia Tenggara. Itulah mengapa butuh waktu hingga tiga tahun lamanya untuk memadupadankan data sampai buku ini rampung," tambah Tikwan.
Tantangan terakhir yang tidak kalah pelik adalah sensitivitas lingkungan. Sebagai tokoh konservasi yang sering berhadapan dengan konflik dan advokasi lingkungan, kisah Panut bersinggungan dengan banyak orang yang saat ini masih hidup. Tikwan harus meramu narasi dengan sangat hati-hati agar konflik masa lalu tetap terungkap secara jujur tanpa merugikan atau mencemarkan nama baik pihak lain.