Suhardiman
Rabu, 09 September 2020 | 10:31 WIB
Rabiatul Adawiyah, salah seorang peserta yang mengikuti perlombaan MTQ ke-37 Sumut. [Dok: Humas Pemprov Sumut]

SuaraSumut.id - Keterbatasan fisik tidak menghalangi semangat Rabiatul Adawiyah untuk mengenal dan membaca Alquran.

Wanita asal Mandailing Natal, Sumatera Utara itu mulai belajar membaca Alquran di usia 20 tahun.

Di usianya yang menginjak ke-27 tahun, Rabiatul telah hafal 20 juz Alquran. Ia pun unjuk kebolehan di MTQ ke-37 Sumut.

Rabiatul tampak didampingi pelatihnya yang akrab ia panggil dengan sebutan Ummi saat tampil di Gedung Balai Kartini Lama, Jalan Imam Bonjol Tebing Tinggi, Selasa (8/9/2020).

Ummi yang memiliki nama lengkap Samriyah Rangkuti menjadi tumpuan bagi Rabiatul saat berjalan. Ia juga menjadi penyemangat Rabiatul selama bertanding.

Ummi mengaku, metode belajar yang diterapkan untuk Rabiatul adalah dengan memperdengarkan murattal, kemudian dihafalkan dan perlahan-lahan mulai memakai irama.

"Bacaan Alquran saya rekam, dia hafal, kemudian kita koreksi dan perbaiki hafalannya. Huruf demi huruf kita koreksi pelafazannya, tajwid dan iramanya," kata Ummi.

Ia mengatakan, Rabiatul telah meraih juara Harapan III di MTQ Tingkat Provinsi di Binjai 2014 dan Harapan II di MTQ Tingkat Provinsi di Dairi.

Roslaini (46) asal Dairi juga tak kalah semangat bersaing di MTQ.  Dengan motivasi menjadi qariah terbaik dan cinta membaca Quran, menjadi alasannya untuk tetap aktif mengikuti perlombaan

Baca Juga: Haornas 2020 di Tengah Pandemi, Bisa Lakukan 4 Olahraga Ini di Rumah!

"Saya memang sejak usia sekolah sudah suka ikut lomba begini. Metode belajar saya meraba lewat Alquran braille dan juga metode hafalan. Saya ingin dapat berkompetisi di tingkat nasional, sebelumnya masih provinsi," ujarnya.

Ketua Dewan Hakim Golongan Tilawah Canet Gamal Abdul Nasir Lubis mengatakan, penampilan Golongan Canet memiliki kekhususan dengan menggunakan isyarat bel.

Isyarat lampu biasa digunakan dalam perlombaan MTQ diganti dengan bunyi bel pertama memulai bacaan, bel kedua bersiap mengakhiri bacaan, dan bel ketiga mengakhiri bacaan.

"Karena sistem penampilan mereka hafalan, jadi dominan para peserta Canet berfokus pada lagu. Ada dua pilihan untuk tampil, rata-rata yang tampil hari ini lebih banyak memilih hafalan, dibandingkan meraba Alquran braille," pungkasnya.

Load More