Suhardiman
Minggu, 15 Februari 2026 | 14:33 WIB
ilustrasi pedagang melayani pembeli. [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Fenomena Asmara Subuh melibatkan anak muda berkumpul selepas sahur di masjid besar bernuansa religius.
  • Jelang berbuka, pedagang takjil memadati jalan utama seperti Jalan Sisingamarajara menjadi pasar Ramadan dadakan.
  • Kawasan Masjid Raya Al Mashun terkenal dengan tradisi berburu bubur sup berempah legendaris saat menjelang buka.

SuaraSumut.id - Ramadan di Medan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Ibu kota provinsi Sumatera Utara ini tidak hanya dipenuhi aktivitas ibadah, tetapi juga tradisi unik serta kuliner khas yang menjadi daya tarik tersendiri.

Dari fenomena Asmara Subuh yang ramai diperbincangkan hingga antrean panjang takjil dan kuliner, Ramadan di Medan menyuguhkan pengalaman yang autentik dan penuh warna.

Berikut rangkuman tradisi dan momen unik yang hanya bisa Anda temui saat Ramadan di Medan.

1. Asmara Subuh

Fenomena “Asmara Subuh” menjadi perbincangan setiap Ramadan di Medan. Istilah ini merujuk pada tradisi anak muda yang berkeliling kota selepas sahur hingga menjelang salat Subuh. Biasanya mereka berkumpul di masjid-masjid besar seperti Masjid Raya Al Mashun.

Secara sosiologis, Asmara Subuh mencerminkan kebutuhan generasi muda untuk tetap bersosialisasi di ruang publik bernuansa religius. Namun, di sisi lain, aparat kerap mengingatkan agar kegiatan ini tidak berubah menjadi ajang balap liar atau konvoi berlebihan.

2. Antrean Takjil

Menjelang waktu berbuka, hampir setiap sudut jalan di Medan dipenuhi pedagang takjil. Kawasan sepeti Jalan Sisingamarajara, Ringrad, HM Yamin dan lainnya berubah menjadi pasar Ramadan dadakan.

Antrean panjang menjadi pemandangan biasa. Menu favoritnya antara lain kolak pisang dan ubi, es timun serut, lontong pecal, gorengan dan lainnya.

3. Antre Bubur Sup di Kawasan Masjid Raya

Setiap Ramadan, kawasan sekitar Masjid Raya Al Mashun dipenuhi warga yang berburu bubur sup legendaris. Bubur ini berbeda dari bubur ayam biasa karena disajikan dengan kuah kaldu rempah dan suwiran ayam kampung.

Antrean bisa mengular hingga puluhan meter sebelum waktu berbuka. Tradisi ini sudah berlangsung puluhan tahun dan menjadi simbol kebersamaan warga Medan.

4. Toge Panyabungan

Tak lengkap membahas Ramadan di Medan tanpa menyebut Toge Panyabungan. Hidangan khas Mandailing ini terdiri dari mie kuning, tauge, perkedel, dan kuah santan pedas gurih.

Nama “Panyabungan” diambil dari daerah asalnya di Mandailing Natal. Saat Ramadan, penjual Toge Panyabungan kebanjiran pembeli karena cocok sebagai menu berbuka yang mengenyangkan.

Jika Anda berkesempatan mengunjungi Medan saat Ramadan, jangan lewatkan pengalaman ini. Rasakan langsung atmosfernya, cicipi kulinernya, dan abadikan momen kebersamaan yang sulit ditemukan di tempat lain.

Load More