Suhardiman
Selasa, 03 Maret 2026 | 14:42 WIB
Ilustrasi Gerhana Bulan Total. (freepik)
Baca 10 detik
  • Umat Islam dianjurkan melaksanakan salat sunnah gerhana bulan (*khusuful qamar*) dengan mengeraskan bacaan saat gerhana terjadi.
  • Amalan penting lainnya meliputi memperbanyak doa, takbir, dan bersedekah karena hati lebih dekat kepada Allah saat fenomena tersebut.
  • Selain itu, dianjurkan pula memperbanyak sedekah dan melakukan berbagai bentuk kebaikan lainnya selama gerhana berlangsung.

Memperbanyak Membaca Takbir

Sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat Bukhari di atas, anjuran lain ketika terjadi gerhana bulan adalah dengan memperbanyak membaca takbir, seperti mengucapkan kalimat “Allahu Akbar”. Memperbanyak takbir merupakan cara untuk mengagungkan Allah, mengakui kebesaran-Nya, serta menyadari betapa kecilnya kita di hadapan-Nya.

Selain itu, memperbanyak membaca takbir menurut Syekh Muhammad Ali al-Qari dapat memadamkan murka Allah. Karena itu, memperbanyak takbir ketika terjadi gerhana bulan atau gerhana matahari sangat dianjurkan. Simak penjelasan berikut ini:

وَكَبِّرُوا أَيْ عَظِّمُوا الرَّبَّ أَوْ قُولُوا اللهُ أَكْبَرُ فَإِنَّهُ يُطْفِئُ نَارَ الرَّبِّ

Artinya, “Dan bertakbirlah, maksudnya agungkanlah Tuhan atau ucapkanlah ‘Allahu Akbar’, karena sesungguhnya ucapan itu dapat memadamkan murka Tuhan.” (Ali al-Qari, V/195).

Memperbanyak Sedekah

Selain amalan-amalan sunnah yang telah disebutkan di atas, amalan lain yang sangat dianjurkan ketika terjadi gerhana bulan adalah memperbanyak sedekah. Sedekah merupakan wujud kepedulian terhadap sesama, sekaligus sebagai bentuk syukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah. Sedekah dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, baik berupa uang, makanan, pakaian, atau bantuan lainnya yang bermanfaat bagi orang yang membutuhkan.

Merujuk penjelasan Syekh Nawawi Banten, memperbanyak sedekah ketika terjadi gerhana merupakan salah satu perbuatan yang sangat dianjurkan, dalam salah satu karyanya ia berkata:

وَيُسَنُّ الْإِكْثَارُ مِنَ الصَّدَقَةِ فِي رَمَضَانَ، لَا سِيَّمَا فِي عَشْرِهِ الْأَوَاخِرِ، وَأَمَامَ الْحَاجَاتِ، وَعِنْدَ كُسُوفٍ وَمَرَضٍ وَحَجٍّ وَجِهَادٍ، وَفِي أَزْمِنَةٍ وَأَمْكِنَةٍ فَاضِلَةٍ

Artinya, “Disunnahkan untuk memperbanyak sedekah pada bulan Ramadhan, terutama pada sepuluh hari terakhirnya, juga di saat ada kebutuhan, ketika terjadi gerhana, sakit, haji, dan jihad, serta pada waktu-waktu dan tempat-tempat yang mulia.” (Nihayatuz Zain, [Beirut: Darul Fikr, t.t], halaman 183).

Memperbanyak Melakukan Kebaikan

Selain amalan-amalan yang telah disebutkan, kita juga dianjurkan untuk memperbanyak melakukan kebaikan lainnya ketika terjadi gerhana bulan. Misalnya dengan membaca Al-Qur’an, merenungi makna ayat-ayatnya, berzikir, bershalawat, membantu orang lain, atau melakukan amalan-amalan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat.

Hadits riwayat Bukhari di atas secara umum menganjurkan kita untuk melakukan berbagai macam kebaikan, terutama sedekah yang manfaatnya bisa dirasakan oleh banyak orang. Penjelasan ini sebagaimana disampaikan oleh Syekh Badruddin al-Aini al-Hanafi, dalam salah satu karyanya mengatakan:

وَفِيهِ التَّحْرِيضُ عَلَى فِعْلِ الْخَيْرَاتِ وَلَا سِيَّمَا الصَّدَقَةُ الَّتِي نَفْعُهَا مُتَعَدٍّ وَفِيهِ عِظَةُ الْإِمَامِ عِنْدَ الْآيَاتِ وَأَمْرُهُمْ بِأَعْمَالِ الْبِرِّ

Artinya, “Di dalam hadits tersebut terdapat dorongan untuk melakukan berbagai kebaikan, terutama sedekah yang manfaatnya dirasakan oleh orang lain.” (Umdatul Qari Syarh Shahihil Bukhari, [Beirut: Darul Fikr, t.t], jilid XI, halaman 18).

Load More