"Yang jadi pertanyaan siapa yang memesan sianida tersebut. Karena tanggal 23 hape disita dan ditanggal yang sama itu disebutkan dilakukan pemesanan," cetusnya.
"Kenapa sebelumnya tidak disebutkan ada jejak digital soal pemesanan dan setelah kami buat laporan ke Polda Sumut terkait kematian korban lalu kemudian muncul, soal pemesanan sianida ini," sambugnnya.
Istri almarhum sebut ada Intimidasi dari Kapolres sebelum meninggal
Istri Bripka AS, Jeni Irene br Simorangkir mengatakan, sebelum meninggal sempat ada intimidasi terhadap almarhum. Menurut Jeni, suaminya tidak pernah menunjukkan gerak-gerik yang aneh sebelum ditemukan tewas. Bahkan, tidak ada pesan terakhir yang ditinggalkan kepada pihak keluarga.
Baca Juga:Fadil Jaidi Bongkar Sisi Lain Alshad Ahmad, Oh Ternyata
Almarhum hanya bercerita kepadanya akan membongkar praktik penggelapan pajak di Samsat Pangururan. Namun, ada oknum yang mengintimidasi.
"Almarhum cerita ke saya, katanya ada oknum akan menyengsarakan anak dan istri," jelasnya.
Saat ditanya siapa oknum tersebut, ia menyebut bahwa intimidasi itu dilakukan pimpinan di Polres Samosir.
"Almarhum bilang, bapak Kapolres (Kapolres Samosir AKBP Yogie Hardiman) yang bilang (intimidasi)," bebernya.
Hal itu diceritakan oleh suaminya pada 3 Februari 2023. Hari itu terakhir kali Jeni bertemu dengan Bripka AS.
Baca Juga:Bahagia Dapat Kesempatan Menginjakan Kaki di Yerusalem, Maia Estianty Ungkap Hal Ini
Tak hanya diintimidasi akan disengsarakan anak istrinya serta penyitaan ponsel, almarhun juga sempat ditanyai siapa dekingnya oleh Kapolres Samosir AKBP Yogie Hardiman terkait dugaan penggelapan pajak.