Kisah Dua Mahasiswa Ikut Bangun Huntara di Aceh Tamiang

Selama lebih dari sepekan, keduanya bekerja sebagai tenaga konstruksi di lokasi Huntara.

Suhardiman
Minggu, 04 Januari 2026 | 14:38 WIB
Kisah Dua Mahasiswa Ikut Bangun Huntara di Aceh Tamiang
Dua Mahasiswa Ikut Bangun Huntara di Aceh Tamiang. [Antara]
Baca 10 detik
  • Pembangunan 600 unit Huntara oleh PT Danantara di Aceh Tamiang menyerap ratusan pekerja lokal, termasuk mahasiswa, sebagai dampak ekonomi pascabencana.
  • Mahasiswa seperti Dava dan Riki bekerja sebagai konstruksi dengan upah harian bervariasi, bertujuan mempercepat relokasi pengungsi banjir.
  • Presiden Prabowo meninjau Huntara pada 1 Januari 2026, mengapresiasi kecepatan pembangunan delapan hari serta kualitas hunian yang dilengkapi fasilitas dasar.

SuaraSumut.id - Pembangunan 600 unit rumah hunian sementara (Huntara) untuk korban banjir bandang di Aceh Tamiang bukan hanya menjadi simbol percepatan pemulihan pascabencana, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat lokal.

Proyek yang dikerjakan oleh PT Danantara (Persero) di Desa Simpang Empat Upah, Kecamatan Karang Baru, ini menyerap ratusan tenaga kerja, termasuk kalangan mahasiswa.

Dava dan Riki, dua mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi di Kota Langsa, menjadi contoh nyata keterlibatan generasi muda dalam proyek kemanusiaan tersebut. Selama lebih dari sepekan, keduanya bekerja sebagai tenaga konstruksi di lokasi Huntara.

"Senang bisa diterima kerja di sini. Ini hari ketujuh kami kerja, Alhamdulillah gaji lancar dapat jatah makan lagi," kata Deva, melansir Antara, Minggu, 4 Januari 2026.

Deva dan Riki mengetahui ada lowongan kerja di Huntara dari status history WhatsApp temannya. Mereka kemudian datang ke lokasi bertemu biro perwakilan perusahaan sesuai brosur perekrutan tenaga kerja. Di sana, setiap perusahaan pelaksana proyek memiliki kru dan SOP masing-masing.

"Ada kawan ngajak, sebelumnya kami ada enam orang warga satu desa, ke enamnya langsung diterima. Ternyata banyak juga yang kerja di sini dari warga Aceh Tamiang," ujarnya.

Sebagai kernet atau pembantu tukang, Dava dan rekan-rekannya menerima upah harian sebesar Rp150 ribu untuk jam kerja normal mulai pukul 07.30 hingga 17.00 WIB.

Jika bekerja lembur pada malam hari, penghasilan bisa meningkat hingga Rp300 ribu per hari, tergantung kebijakan perusahaan pelaksana.

"Kalau nggak lembur Rp150 ribu per hari, kalau lembur shift malam ada yang Rp250 sampai Rp300 ribu, bervariasi karena beda perusahaan. Gaji dibayar satu minggu sekali," ucapnya.

Dirinya mengaku belum memiliki pengalaman kerja di bidang bangunan. Selain mengisi waktu libur kuliah, ternyata tujuan Deva dan Rizki mulia. Tidak semata mencari uang jajan, tapi mereka ingin berkontribusi bekerja di proyek Huntara.

Terutama, untuk membantu korban pengungsi banjir yang saat ini tinggal di tenda-tanda supaya cepat mendapatkan rumah.

"Kami korban banjir juga tapi tidak mengungsi. Ya, paling tidak sebagai warga lokal kami ingin Huntara ini cepat selesai dibangun sehingga pengungsi yang kehilangan tempat tinggal bisa segera direlokasi kemari. Itu salah satu alasan kami mahasiswa harus ikut bersama membangun Huntara ini," katanya.

"Kita berharap kepada pemerintah daerah tidak ada nepotisme dalam pembagian bangunan Huntara nanti. Harus diutamakan warga setempat yang betul-betul mengungsi, jangan untuk korban banjir yang masih punya rumah," jelas Dava.

Sebelumnya, salah seorang penyintas banjir Aceh Tamiang, Rizki sudah masuk melihat kondisi Huntara. Dia juga merupakan calon penerima Huntara yang berlokasi strategis di Jalinsum Medan-Banda Aceh.

"Rumah baru kami nanti di sebelah masjid, masya Allah," katanya.

Lokasi Huntara memang bertetangga dengan Masjid Darussalam di Desa Simpang Empat Upah, Kecamatan Karang Baru. Rizki korban banjir yang ikut mengungsi tidur di tenda di daerah bilangan Karang Baru.

Baginya, hunian yang dibangun PT Danantara membuka asa untuk kehidupan Aceh Tamiang lebih baik lagi, usai 37 hari lalu diterjang banjir bandang yang membawa kayu dan lumpur.

Rumahnya, telah ditelan lumpur, dan tidak ada harapan untuk ditempatkan kembali. Bahkan disana juga ada rumah yang hanyut, roboh dan tidak berbentuk lagi.

Sebagai informasi, pada 1 Januari 2026 lalu Presiden Prabowo telah meninjau langsung rumah Huntara di Aceh Tamiang untuk penyintas korban banjir, bagus dan sangat humanis.

"600 rumah dalam delapan hari, bukti Danantara serius dan selalu bersama untuk masyarakat Indonesia," ujar Prabowo di hadapan CEO Danantara Rosan dan COO Danantara Dony Oskaria.

Bahkan, Presiden Prabowo juga memberi apresiasi kepada direktur BUMN Karya, yang bekerja dengan hati tak kenal lelah membangun hunian Danantara yang berada di pinggir jalan raya Aceh Tamiang-Langsa di samping Masjid Darussalam tersebut.

Amatan di lapangan, meskipun berstatus hunian sementara, bangunan tersebut terlihat kokoh, bersih dan nyaman. Dilengkapi kebutuhan dasar, bahkan wifi gratis. Di dalam rumah, terdapat dua dipan dan kasur, serta taman untuk anak-anak bermain.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis: Jajal Seberapa Jawamu Lewat Tebak Kosakata Jatuh
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tebak Jokes Bapak-bapak, Cek Seberapa Lucu Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Matematika Kelas 9 SMP Materi Statistika dan Peluang
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Bahasa Indonesia Kelas 9 SMP dengan Kunci Jawaban dan Penjelasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Fiksi dan Eksposisi dengan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Matematika Kelas 6 SD Materi Geometri dan Pengukuran Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini