- Aktivis mahasiswa Dion Hafiz menilai kritik DPRD Godfried Effendi Lubis terhadap Wali Kota Medan tidak berdasar data.
- Mendagri Tito Karnavian mencatat pertumbuhan ekonomi Kota Medan pada April 2026 mencapai 6,54 persen tertinggi pasca-Covid-19.
- BPS melaporkan inflasi Kota Medan pada 2026 mencapai 4 persen lebih yang memicu keluhan kenaikan harga kebutuhan pokok.
SuaraSumut.id - Aktivis Mahasiswa Dion Hafiz Maulana Munthe menuding kritikan Anggota DPRD Medan, Godfried Effendi Lubis yang menyebutkan pertumbuhan ekonomi dan inflasi tinggi akibat kegagalan kepemimpinan Wali Kota Medan.
Hal ini menjadi sebuah kritikan yang tidak memiliki azas pemikiran dan data pendukung, sebab ia tidak melampirkan data-data yang bisa dinalar oleh publik.
"Kritikan seorang Anggota DPRD Medan, Godfried Effendi Lubis terhadap pertumbuhan ekonomi di Kota Medan seperti pejabat publik yang tidak membaca data, lebih kepada untuk pandangan politik kekuasaan. Saya menyampaikan ini supaya tidak terjadi konsumsi informasi yang liar dan tak berdasar,” kata Dion yang merupakan Ketua DPD IMM periode 2023-2024 dalam keterangan yang diterima, Kamis, 27 Agustus 2026.
Dion memaparkan, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian pada April 2026 secara terang menyampaikan data pertumbuhan ekonomi di Kota Medan menyentuh angka 6,54 persen. Angka tersebut, merupakan angka yang tertinggi pasca Covid 19.
"Kondisi seperti ini kami turut hadir sebagai bagian untuk control kepada pejabat publik, kritik silahkan saja, tapia da narasi yang diikuti oleh data. Sebab, kami ini bukan hanya ingin mendapatkan penjelasan, melainkan ada data yang dapat diuji dan dipertanggungjawabkan sebagai bagian pembelajaran di hadapan publik,” ujarnya.
Ia menyebutkan, kepemimpinan Wali Kota Medan, Rico Waas saat ini sedang mengalami banyak ujian, mulai ujian politik, ujian kebijakan, dan ujian pertanggungjawaban.
Baca Juga:WNA Selundupkan Vape Narkoba ke Medan Lewat Bandara, Diselip di Lipatan Baju
“Setahu kami, kritikan di era demokrasi sah disampaikan, tapi apakah kritikan bermotif politik atau bermotif perbaikan?. Kami analisis kritikan dari Anggota DPRD Medan Godfried lebih kepada politik narasi, sebab kritik pertumbuhan ekonomi dan inflasi, tapi tidak menyebutkan data dan sumber data. Jadi sama saja, ini kritikan kosong yang nadanya lebih kepada kepentingan politik,” ucapnya.
Secara program, ada banyak kegiatan Pemkot Medan yang pro kepada UMKM, seperti Car Free Day, Car Free Night, Pesta Kuliner, dan Kegiatan Pemko Medan yang melibatkan bazar-bazar UMKM diantaranya pelaksanaan MTQ dan lainnya.
Selain itu, kami menyaksikan sendiri bahwa Kawasan Pasar Petisah yang selama ini gelap saat malam, tapi saat ini sudah ramai pedagang jajanan malam.
"Kami melihat, ada sebuah kebijakan Wali Kota Medan yang sangat pro kepada pelaku UMKM produktif, yang mayoritas pelaku usahanya adalah usia Gen Z," ungkapnya.
Lebih lanjut, dia menyatakan inflasi daerah di Kota Medan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2026 menyentuh angka 4 persen lebih. Hal ini tentu menjadi sebuah perhatian yang seharusnya diperhatikan oleh Wali Kota Medan. Sebab, dengan perhatian serius berjalan struktur dari Tim Inflasi Daerah.
"Saat ini, di pasar-pasar tradisional, banyak ibu-ibu mengeluh atas kenaikan harga-harga kebutuhan pokok, mulai beras, gula, minyak goreng, ayam, ikan dan bahkan harga-harga tidak stabil. Ini ada problem, sudah seharusnya Tim Inflasi Daerah yang terdiri dari pemerintah dan instansi vertical lainnya bergerak membahas ini. Jangan inflasi tak dikendalikan, bisa rakyat semakin terbebani," katanya.
Baca Juga:DFSK E5 Plus 'Tancap Gas' di Medan: Canggih, Nyaman dan Sangat Irit