- Binance mengalami peretasan terbesar dalam sejarah kripto pada Jumat dini hari, 30 Oktober 2026.
- Nilai aset yang dipindahkan peretas mencapai sekitar 5,8 miliar dolar Amerika Serikat berdasarkan data Arkham.
- Binance menyatakan dana pengguna aman dan berhasil membekukan sebagian aset kripto yang dicuri.
SuaraSumut.id - Pengamat aset kripto, Vinsensius Sitepu menilai insiden peretasan Binance yang terungkap pada Jumat (30/10/2026) dini hari sebagai pukulan telak terhadap keamanan dan kepercayaan industri aset digital global dan ini menjadi yang terbesar sepanjang sejarah kripto.
Aktivitas pemindahan aset mencurigakan dari dompet Binance teridentifikasi mulai pukul 03.24 WIB, dengan nilai aset yang dikaitkan dengan peretas mencapai sekitar US$5,8 miliar berdasarkan data dari Arkham dikutip oleh Lookonchain. Skala insiden ini melampaui peretasan Bybit pada Februari 2025 sebesar US$1,5 miliar.
Pihak Binance sudah mengonfirmasi aksi peretasan itu, tetapi belum mengonfirmasi klaim besaran kripto yang dicuri. Binance juga mengklaim dana pengguna aman dan mengonfirmasi bahwa kripto senilai 2,54 miliar dolar telah dibekukan.
"Ini jelas tamparan keras bagi industri kripto global. Peretasan terhadap bursa sebesar Binance membuktikan bahwa skala bisnis, reputasi internasional, dan kecanggihan teknologi tidak otomatis menjamin keamanan aset nasabah," ujar Vinsensius dalam keterangan tertulisnya.
Menurutnya, insiden tersebut juga menguji kesiapan Binance dalam menghadapi serangan siber berskala luar biasa besar.
"Jangan pernah menganggap sebuah bursa terlalu besar untuk diretas. Justru semakin besar aset yang dikelola, semakin menarik bursa tersebut sebagai sasaran kelompok peretas profesional," tegasnya.
Vinsensius turut menyoroti pembekuan sekitar US$2,41 miliar dalam USDT dan USDC oleh penerbit stablecoin sebagai langkah penting membatasi pergerakan dana yang terkait dengan peretasan.
"Pembekuan miliaran dolar ini menunjukkan bahwa penerbit stablecoin memiliki kekuatan untuk menghentikan perpindahan aset tertentu. Ini membantu penanganan kejahatan, tetapi sekaligus memperlihatkan bahwa sentralisasi masih menjadi bagian penting dari ekosistem kripto," jelasnya.
Ia juga meminta Binance memberikan penjelasan terbuka mengenai dampak insiden, mekanisme pemulihan, serta perlindungan dana nasabah.
"Pernyataan bahwa dana pengguna aman harus disertai bukti dan tanggung jawab yang jelas. Kepercayaan publik tidak cukup dipertahankan melalui janji," katanya.
"Pelajaran terbesarnya adalah jangan menggantungkan seluruh keamanan kekayaan digital kepada satu pihak. Industri kripto membutuhkan transparansi, audit independen, dan perlindungan nasabah yang jauh lebih kuat. Kepercayaan dibangun bertahun-tahun, tetapi dapat runtuh hanya dalam hitungan jam," pungkas Vinsensius.