SuaraSumut.id - LBH Medan meminta kepolisian melakukan ekshumasi atau pembongkaran kuburan dua tahanan yang diduga tewas tidak wajar.
Dua tahanan Polsek Sunggal yang tewas, yaitu Joko Dedi Kurniawan dan Rudi Efendi terlibat kasus perampokan modus polisi gadungan.
Wakil Direktur LBH Medan, Irvan Saputra mengatakan, ekshumasi dilakukan guna untuk pembuktian. Penyidik wajib mengajukan permintaan bedah mayat (autopsi) guna untuk mengetahui penyebab kematiannya.
"Ini sesuai dengan Pasal 133 Jo Pasal 134 ayat (1,2 dan 3) KUHAP," kata Irvan kepada wartawan, Kamis (12/11/2020).
Berdasarkan Instruksi Kapolri No. Pol: Ins/E/20/IX/75 menyebut, mengharuskan prosedur autopsi yang mesti ditaati dan dilaksanakan penuh oleh penyidik dengan bantuan ahli patologi, forensik tanpa terkecuali agar dapat menjawab persoalan yang ada.
"Untuk itu, LBH Medan mendesak Kapolda Sumut segera melakukan ekshumasi untuk memberikan keadilan kepada keluarga korban," ujarnya.
Tewasnya dua tahanan itu dilaporkan pihak keluarga ke LBH Medan pada pada 05 Oktober 2020. Keluarga curiga kematian keduanya diduga akibat penganiayaan. Hal tersebut terungkap oleh keluarga pada saat memandikan jenazah.
"Dari keterangan pihak keluarga, yakni Edi Sartono, paman Joko Dedi kurniawan, yang ikut memandikan jenazah, menemukan luka di kepala. Begitu juga dengan pengakuan keluarga Rudi Efendi pada saat memandikan jenazah yang dalam keadaan terluka, tangan terkelupas dan badan membiru," kata Irvan.
Sebelumnya, pihak kepolisian menyebut dua tahanan itu meninggal karena sakit. Belakangan klaim itu dibantah LBH Medan dengan bukti rekam medis keduanya dari Rumah Sakit Bhayangkara Medan.
Baca Juga: Viral Pasangan Siri Begituan di Kuburan China, Warga: Hampir Setiap Hari
"Hasil pemeriksaan Radiologi RS Bhayangkara yang menyatakan tidak tampak kelainan pada jantung dan paru. Oleh karena itu kematian a.n Rudi Efendi dan Joko Dedi Kurniawan tidak wajar dan tidak dapat diketahui apa penyebab kematiannya," ungkapnya.
LBH Medan telah melapor ke Polda Sumut dengan Nomor: STTLP/1924/X/2020/SUMUT/ SPKT”I” sekaligus melaporkan pelanggaran kode etik di Propam Polda Sumut pada 07 Oktober 2020 dengan Nomor:STPL/59/Propam Polda/Sumut/2020.
Bahwa atas Laporan tersebut pihak kepolisian daerah Sumut melalui Ditreskrimum sudah melakukan pemeriksaan/wawancara saksi yang dihadirkan oleh Pelapor/korban diantaranya adik kandung mendiang Joko Dedi Kurniawan yakni Sri Rahayu, Wardoyo dan pamannya Edi Sartono.
Kontributor : Muhlis
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
SIPEF dan KIS Bangun Pabrik BioCNG di Simalungun, Ubah Limbah Sawit Jadi Energi Bersih
-
Imigrasi Kualanamu Pastikan Kelompok Rentan Mendapat Akses Layanan Paspor yang Setara
-
Remaja di Medan Pukul Teman hingga Tewas Gegara Kesal Dimaki
-
Pengiriman 144 Balpres Ilegal dari Bandung ke Medan Digagalkan
-
Tembok Basah Padahal Tidak Hujan? Coba Cek Kondisi AC