- Bencana banjir dan longsor akhir November 2025 di Aceh Tamiang melumpuhkan ekonomi warga, memaksa warung Arnis tutup sementara sejak 26 November.
- Pemilik warung Arnis (57) dan karyawannya sempat mengungsi akibat kenaikan air banjir yang sangat cepat dan merusak properti usahanya.
- Pembersihan akses jalan oleh Kementerian PU memicu pembukaan kembali warung Arnis dan warung lainnya, memulihkan aktivitas ekonomi lokal.
SuaraSumut.id - Bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, pada akhir November 2025, bukan hanya merusak rumah dan infrastruktur, tetapi juga melumpuhkan denyut ekonomi masyarakat. Warung-warung makan di sepanjang jalan lintas terpaksa menutup usaha, meninggalkan dapur dingin dan kursi kosong.
Namun, secercah harapan mulai tampak setelah Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Direktorat Jenderal Bina Marga, turun tangan membersihkan akses jalan yang sebelumnya tertutup lumpur dan puing.
Salah satu potret ketangguhan warga tercermin dari kisah Arnis (57), pemilik warung makan sederhana di jalan lintas Aceh Tamiang. Selama lima tahun, warung tersebut menjadi sumber nafkah bagi ia dan para karyawan. Banjir besar menjadi ujian terberat yang hampir mematikan usahanya.
Arnis masih mengingat jelas suasana mencekam pada hari terakhir ia berjualan. Air awalnya
datang perlahan, lalu berubah menjadi ancaman yang memaksa ia dan keluarga mengungsi selama berhari-hari.
“Terakhir saya jualan tanggal 26 November. Suasananya sudah mencekam, air mulai naik. Lampu mati, saya pakai genset sampai habis Isya, setelah itu saya tutup,” kata Arnis saat ditemui tim suara.com, Senin, 29 Desember 2025.
Kondisi semakin sulit ketika bahan bakar untuk genset tak lagi tersedia. Seiring air banjir terus naik, warung pun terpaksa tutup.
"Bahan bakar minyak sudah tidak ada yang jual, rumah-rumah juga sudah kosong, jadi saya tutup warung,” ujarnya.
Saat itu, Arnis tidak tinggal di lokasi warung. Namun para karyawannya justru menjadikan tempat tersebut sebagai lokasi pengungsian sementara.
"Karyawan saya tinggal di sini. Rumahnya sudah dua hari kemasukan air. Dia mengungsi ke sini (warung), sama istri dan anak-anaknya, masih kecil-kecil, ada bayi juga,” ucapnya.
Arnis tak menyangka banjir akan sedahsyat itu. Saat pulang ke rumah, kondisi awal masih terlihat aman. Namun dalam hitungan jam, jalan di depan rumah berubah seperti sungai.
“Saya pakai mobil, tapi enggak bisa dikeluarin lagi. Jalan depan sudah macam sungai. Mobil terjebak di dalam,” kata Arnis.
Ia dan keluarga akhirnya mengungsi ke rumah tetangga yang lebih tinggi.
“Empat hari saya mengungsi sama anak-anak, semua panik. Steling tumbang, pecah, botol ada yang pecah," ujarnya.
Pascabanjir surut, keadaan belum langsung pulih. Lumpur masih di mana-mana. Warungnya terbengkalai dan aktivitas ekonomi nyaris lumpuh.
“Sudah satu bulan keadaan seperti ini. Dampaknya besar sekali,” katanya lirih.
Perubahan mulai terasa saat alat berat Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian PU diterjunkan untuk membersihkan ruas jalan, memberikan efek positif bagi denyut perekonomian warga.
Hal ini membuat Arnis bangkit. Bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk para karyawannya yang sebagian besar janda.
“Saya pikirkan karyawan. Banyak yang janda. Saya bilang, ‘Ayo Bu, kita jualan. Kalau enggak jualan, mau makan apa?" ucapnya.
Lima hari lalu, warung Arnis kembali dibuka. Perlahan, kehidupan mulai bergerak.
“Mulai bangun sedikit-sedikit. Kita lihat responsnya bagaimana. Alhamdulillah karyawan senang,” katanya.
Meski harga bahan pokok naik dan kondisi kota belum sepenuhnya pulih, Arnis tetap bersyukur.
"Jalan sudah mulai lancar walaupun masih macet-macet sedikit. Belanja sudah bisa walaupun harganya agak meningkat," ujarnya.
Kini, warungnya kembali melayani pelanggan.
"Yang penting kita sudah mulai beraktivitas lagi. Alhamdulillah, sejak buka ada peningkatan,” kata Arnis dengan senyum penuh harap.
Amatan di lapangan, sejumlah warung makan di sepanjang jalan lintas juga mulai buka. Ubin masih bernoda lumpur, meja belum sepenuhnya rapi, namun senyum pemilik warung menandai optimisme baru.
Pembersihan infrastruktur oleh pemerintah, melalui Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian PU, memberi dampak langsung bagi UMKM dan masyarakat kecil.
Kontributor : M. Aribowo
Berita Terkait
-
Cak Imin Ingatkan Dampak Bencana Bisa Ciptakan Kemiskinan Baru
-
Diguyur Hujan Lebat, Jalur Lingkar Utara Jatigede Longsor
-
Aktifitas Sentul City Disetop Pascabanjir, Pemkab Bogor Selidiki Izin dan Drainase
-
BPBD Bogor Evakuasi Mobil yang Terseret Banjir Bandang di Sentul
-
Sentul Diterjang Banjir Bandang Rabu Sore, Longsor Ikut Tutup Jalan
Terpopuler
- Dari Koruptor Kembali ke Rakyat: Aset Rp16,39 Miliar Kini Disulap Jadi Sekolah hingga Taman di Jabar
- Teman Sentil Taqy Malik Ambil Untung Besar dari Wakaf Alquran di Tanah Suci: Jangan Serakah!
- HP Bagus Minimal RAM Berapa? Ini 4 Rekomendasi di Kelas Entry Level
- Simulasi TKA: 15 Soal Matematika Kelas 6 SD Materi Bangun Ruang dan Statistika
- Link Download 40 Poster Ramadhan 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Edit
Pilihan
-
Here We Go! Putra Saparua Susul Tijjani Reijnders Main di Premier League
-
Kabar Baik dari Elkan Baggott untuk Timnas Indonesia
-
Jaminan Kesehatan Dicabut, Ribuan Warga Miskin Magelang Tercekik Cemas: Bagaimana Jika Saya Sakit?
-
Lagu "Cita-citaku (Ga Jadi Polisi)" Milik Gandhi Sehat Ditarik dari Peredaran, Ada Apa?
-
Geger Taqy Malik Dituding Mark-up Harga Wakaf Alquran, Keuntungan Capai Miliaran
Terkini
-
Tambang Emas Martabe Telah Rehabilitasi 41,76 Hektare Hutan
-
Heboh Kakek Penjual Mainan Diduga Cabuli Anak SD di Deli Serdang, Polisi Tahan Pelaku
-
Listrik Padam 8 Jam di Padang Lawas 14 Februari 2026, Ini 13 Kecamatan yang Terdampak
-
86 Keluarga di Tapanuli Utara Terima Dana Perbaikan Rumah Rusak Pascabencana Banjir dan Longsor
-
50 Kepala Desa Aceh Barat Diultimatum Kembalikan Temuan Dana Desa, Bupati Ancam Pemberhentian