Setiap bulannya mereka hanya menerima uang berkisar Rp 50 sampai 150 ribu per orang.
"Cuma Rp 300 ribu yang kami minta dari APBD ini. Walaupun duit segitu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan harian," ujarnya.
Mereka mengaku sudah capek melakukan memprotes dan menyampaikan aspirasinya. Mulai dari kepada kepala Puskesmas, dinas, bahkan legislatif.
"Demo ke sini kami juga diancam akan dipecat, kami siap,” ujarnya lantang.
Baca Juga:Usir Kecoa dengan Cara Ini
Kesengsaraan mereka bertambah karena sebagai tenaga medis suka rela di Asahan ini tak bisa mendaftarkan diri mengikuti pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK).
Hal itu dikarenakan mereka tidak pernah menerima bukti gaji dan surat pengangkatan yang sah.
Selain mengancam akan terus melakukan aksi jahit mulut, mereka juga akan berencana menginap di kantor Bupati Asahan. Setelah berorasi, perwakilan massa aksi diajak berkomunikasi dengan Pemkab Asahan.