- Utang dalam Islam adalah akad tolong-menolong yang harus dikembalikan tanpa tambahan riba.
- Islam mewajibkan pencatatan dan saksi dalam utang untuk menjaga keadilan dan menghindari sengketa.
- Memberi kelonggaran kepada orang yang kesulitan membayar utang adalah perbuatan yang mulia di sisi Allah.
SuaraSumut.id - Utang dalam pandangan Islam adalah akad tolong-menolong antara pemberi pinjaman (muqridh) dan penerima pinjaman (muqtaridh) berupa penyerahan harta atau uang yang wajib dikembalikan sesuai jumlah tanpa tambahan riba.
Utang adalah kewajiban moral dan sosial yang harus dibayar kembali sebagai bentuk tanggung jawab kepada sesama. Dalam Islam, utang boleh dilakukan jika benar-benar dibutuhkan dan harus berniat melunasinya.
Utang juga harus dicatat dan disaksikan agar hak masing-masing pihak terlindungi dan menghindari sengketa di masa depan.
Islam tidak menganjurkan berutang untuk hal sia-sia, melainkan hanya untuk kebutuhan pokok, pengobatan, pendidikan, modal usaha halal, atau menolong sesama.
Memberi kelonggaran bagi yang kesulitan melunasi utang adalah kebaikan besar di mata Allah. Melunasi utang tepat waktu adalah kewajiban agar tidak berdosa.
Dengan demikian, utang menurut Islam adalah akad sosial yang mengandung nilai kejujuran, tanggung jawab, dan tolong-menolong yang harus dijaga agar membawa keberkahan dan tidak memberatkan salah satu pihak.
Berikut adalah daftar lengkap ayat-ayat Al-Quran tentang utang beserta terjemahannya yang penting untuk dipahami:
1. Surat Al-Baqarah ayat 280:
وَإِن كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ وَأَن تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
Artinya: "Dan jika seseorang dalam kesulitan, maka berilah tangguh sampai dia mendapatkan kelapangan; dan jika kamu menginfakkan (menyedekahkan) maka itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 280)
2. Surat Al-Baqarah ayat 281:
وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
Artinya: "Dan bertakwalah kepada hari (kiamat) ketika kamu semua dikembalikan kepada Allah, kemudian setiap jiwa diberi balasan sepenuhnya terhadap apa yang telah dikerjakannya dan mereka tidak dianiaya." (QS. Al-Baqarah: 281)
3. Surat Al-Baqarah ayat 282 (ayat terpanjang yang khusus mengatur utang piutang dengan rinci):
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنتُمْ بِدَينٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوهُۚ وَلْيَكْتُب بَّيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ أَن يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُۗ فَلْيَكْتُب وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًاۚ فَإِن كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لَا يَسْتَطِيعُ أَن يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُۥ بِالْعَدْلِۚ وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِن رِّجَالِكُمْۖ فَإِن لَّم يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّن تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَآءِ أَن تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَى ٱلْأُخْرَىٰۚ وَلَا يَأْبَ الشُّهَدَآءُ إِذَا مَا دُعُوا۟ۚ وَلَا تَسْـَٔمُوا أَن تَكْتُبُوهُ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا إِلَىٰٓ أجَلِهِۦۚ ذَٰلِكُمْ أَقْسَطُ عِندَ ٱللَّهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَـٰدَةِ وَأَدْنَىٰ أَلَّا تَرْتَابُوٓا۟ ۖ إِلَّآ أَن تَكُونَ تِجَـٰرَةً حَـٰضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلَّا تَكْتُبُوهَاۗ وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ وَلَا يُضَآرَّ ڪَاتِبٌ وَلَا شَهِيدٌۚ وَإِن تَفْعَلُوا فَإِنَّهُۥ فُسُوقٌۗ وَٱتَّقُوا ٱللَّهَۖ وَيُعَلِّمُكُمُ ٱللَّهُۥ وَٱللَّهُۥ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ
Artinya (ringkas): "Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu berutang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu mencatatnya dengan adil. Janganlah penulis enggan menulis sebagaimana Allah mengajarnya. Hendaklah orang yang berutang mendiktekan tulisan itu, dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah dan jangan mengurangi tulisan itu. Jika yang berutang itu lemah akal atau tidak mampu menulis, maka hendaklah walinya menulis dengan adil. Ambillah saksi dua orang laki-laki, jika tidak ada dua laki-laki, maka satu laki-laki dan dua perempuan yang kamu ridhoi sebagai saksi supaya jika salah satu lupa, yang lain mengingatkan. Jangan engkau merasa berat menulis utang kecil atau besar sampai waktunya. Yang demikian itu lebih adil di sisi Allah dan lebih kuat buktinya. Kecuali jual beli tunai di antara kalian, tidak dosa jika tidak ditulis. Ambillah saksi apabila kamu berjual beli dan jangan saksi atau penulis dipersulit. Jika dilakukan, itu kefasikan. Bertakwalah kepada Allah. Allah mengajarkan kepada kalian dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-Baqarah: 282)
4. Surat Al-Baqarah ayat 283:
فَإِن كُنتُمْ عَلَىٰ سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُوا كَاتِبًا فَإِنْ تَسْتَغْفِرُوا لِلَّهِ فَلْيُصَدِّقْ قَلْبُهُۥ وَلَا يَأْبَ ٱلْيَدُ ۖ وَتَسْلِمُوا۟ إِلَيْهِۦ ۚ وَلَا تَكْتُمُوا۟ ٱلشَّهَـٰدَةَ ۚ وَمَن يَكْتُمْهَاۥ فَإِنَّهُۥٓ ءَاثِمٌ قَلْبُهُۥ ۗ وَٱللَّهُۥ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ
Artinya: "Jika kamu bepergian di muka bumi dan tidak mendapati penulis, maka hendaklah ada penjamin (dari pihak yang berutang). Dan hendaklah penjamin itu menunaikan amanahnya dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah, dan janganlah kamu menyembunyikan kesaksian, barang siapa menyembunyikannya maka hatinya berdosa, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Baqarah: 283)
Ayat-ayat di atas menegaskan pentingnya kejelasan, pencatatan, dan tanggung jawab dalam berutang sesuai prinsip Islam agar terhindar dari perselisihan dan dosa. Selain itu Allah memerintahkan memberi keringanan bagi yang kesulitan serta menjaga amanah di antara pihak yang berutang-piutang.