- Masyarakat Sunda mengadakan tradisi Munggahan menjelang Ramadan sebagai simbol peningkatan spiritual dan kebersamaan sosial.
- Aktivitas inti Munggahan meliputi makan bersama, saling memaafkan, dan melaksanakan doa kolektif sebelum puasa.
- Tradisi ini menguatkan silaturahmi, ungkapan syukur, serta pembersihan hati menyambut fase ibadah Ramadan lebih tinggi.
SuaraSumut.id - Masyarakat Indonesia memiliki beragam tradisi lokal yang sarat makna menjelang Ramadan. Seperti masyarakat Sunda, Jawa Barat yang memilik tradisi bernama munggahan.
Munggahan bukan hanya kegiatan makan bersama, tetapi juga momentum penguatan nilai spiritual, solidaritas sosial, dan pelestarian kearifan lokal.
Asal Usul dan Makna Tradisi Munggahan
Melansir situs Sukabumi Update, munggahan berasal dari bahasa Sunda yang berarti naik atau meningkat. Secara filosofis, tradisi ini melambangkan transisi spiritual dari kehidupan biasa menuju fase ibadah yang lebih tinggi di bulan Ramadan. Bukan sekadar ritual sosial, Munggahan juga punya makna:
- Persiapan spiritual sebelum puasa dimulai, agar hati dan niat lebih bersih.
- Ungkapan syukur atas nikmat umur dan kesehatan sehingga masih bisa bertemu Ramadan.
- Pembersihan hubungan antarmanusia, lewat saling memaafkan agar ibadah selama Ramadan lebih khusyuk.
- Penguatan silaturahmi, karena berkumpul dengan keluarga dan kerabat jadi sarana mempererat hubungan.
Aktivitas dalam Tradisi Munggahan
Munggahan biasa dilakukan di akhir bulan syaban sebelum datangnya bulan ramadan. Meski bentuknya bisa sedikit berbeda antar daerah, secara umum tradisi ini diisi dengan beberapa kegiatan khas berikut:
1. Makan Bersama (Botram / Liwetan)
Makan bersama keluarga, tetangga, dan kerabat menjadi inti acara. Hidangan khas seperti nasi liwet, ikan asin, lalapan, sambal, tahu-tempe goreng, serta lauk-pauk lainnya disantap bersama di atas alas daun atau tikar. Aktivitas ini bukan sekadar makan, tetapi simbol kebersamaan dan memupuk rasa syukur.
2. Salam-Salaman dan Memaafkan
Munggahan sering dimanfaatkan sebagai momen untuk saling meminta maaf dan saling memaafkan antara keluarga, tetangga, dan sahabat sebelum memasuki bulan puasa. Hal ini mencerminkan nilai pembersihan hati dan hubungan manusia yang lebih baik.
3. Doa Bersama
Doa kolektif mengiringi rangkaian munggahan. Umat berkumpul untuk berdoa agar ibadah puasa selama Ramadan berjalan lancar dan penuh berkah mencakup doa keselamatan, kesehatan, dan ampunan.
4. Ziarah ke Makam Leluhur
Beberapa keluarga juga melakukan ziarah kubur ke makam orang tua atau leluhur sebagai bentuk refleksi spiritual dan pengingat akan kefanaan hidup. Kegiatan ini menambah dimensi religius dalam menyambut Ramadan.
5. Membersihkan Tempat Ibadah dan Rumah
Di beberapa mayoritas, tradisi Munggahan juga melibatkan kegiatan membersihkan rumah atau tempat ibadah (masjid/musholla) sebagai simbol pembersihan lahir dan batin menyongsong bulan suci.
Selain dimensi religius, Munggahan juga punya nilai sosial yang kuat. Ini menjadi forum untuk menjaga ukhuwah Islamiyah, solidaritas antar keluarga dan tetangga, serta tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Meski zaman berubah, tradisi munggahan tetap dilestarikan karena dianggap sebagai wadah penguatan hubungan sosial dan spiritual sebelum menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh.