- Rista Zwestika menyarankan masyarakat disiplin mengatur prioritas pengeluaran akibat pelemahan rupiah yang memicu kenaikan harga barang dan jasa.
- Masyarakat wajib memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pokok, tagihan rutin, serta melunasi utang tepat waktu guna menghindari beban denda.
- Penyediaan dana darurat serta evaluasi pengeluaran konsumtif penting dilakukan untuk menjaga stabilitas keuangan keluarga saat kondisi ekonomi.
SuaraSumut.id - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing sering kali menjadi perhatian masyarakat karena dampaknya dapat dirasakan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Saat rupiah melemah, harga berbagai barang dan jasa berpotensi mengalami kenaikan, terutama produk yang bergantung pada bahan baku impor.
Kondisi ini membuat banyak keluarga harus lebih cermat dalam mengelola pengeluaran agar kondisi keuangan tetap stabil.
Perencana keuangan dari platform edukasi dan konsultasi Rista Zwestika menyampaikan pentingnya pengaturan pengeluaran berdasarkan prioritas.
Penurunan nilai tukar rupiah berpotensi menyebabkan kenaikan harga barang dan jasa, karenanya penting untuk mengelola keuangan secara cermat agar kebutuhan utama keluarga bisa tetap terpenuhi.
"Dalam kondisi nilai tukar rupiah melemah dan berpotensi mendorong kenaikan harga sejumlah kebutuhan, masyarakat perlu lebih disiplin dalam mengatur prioritas pengeluaran," kata Rista, melansir Antara, Senin, 8 Juni 2026.
Rista menyampaikan pentingnya penetapan prioritas pengeluaran dan penyiapan cadangan dana guna mengamankan kondisi keuangan keluarga semasa kondisi ekonomi kurang baik.
Pos pertama yang harus dijaga adalah pos pengeluaran untuk pemenuhan kebutuhan pokok, yang mencakup makanan, transportasi, pendidikan, kesehatan, dan pembayaran tagihan rutin rumah tangga.
Menurutnya, pengalokasian dana untuk pemenuhan kebutuhan pokok dan pembayaran tagihan rutin rumah tangga mesti diprioritaskan.
Mereka yang memiliki utang atau kewajiban membayar cicilan, ia mengatakan, sebaiknya berusaha membayar tepat waktu untuk menghindari tambahan beban berupa bunga maupun denda.
Ia menyarankan pengalokasian dana darurat sebagai bantalan keuangan untuk menghadapi risiko yang tidak terduga seperti penurunan pendapatan, kehilangan pekerjaan, dan pemenuhan kebutuhan mendesak.
Selain itu, perlunya mengevaluasi kembali pengeluaran untuk keperluan konsumtif dan keperluan yang tidak mendesak ketika kondisi perekonomian sedang kurang baik.
"Pengeluaran yang bersifat konsumtif atau tidak mendesak sebaiknya dievaluasi kembali hingga kondisi lebih stabil," ujarnya.
Menurut dia, evaluasi pengeluaran diperlukan untuk menjaga keseimbangan anggaran keuangan rumah tangga dan mencegah tekanan keuangan yang lebih besar di kemudian hari.