Bcrobes Dorong Riset Berbasis Mikrobioma, Ungkap Potensi Probiotik dalam Mendukung Terapi Jerawat

Penelitian ini mengeksplorasi pendekatan berbasis mikrobioma melalui pemanfaatan probiotik dan secretome sebagai terapi pendamping dalam penanganan jerawat.

Suhardiman
Kamis, 06 Agustus 2026 | 18:41 WIB
Bcrobes Dorong Riset Berbasis Mikrobioma, Ungkap Potensi Probiotik dalam Mendukung Terapi Jerawat
Bcrobes memaparkan hasil riset mengenai potensi probiotik dalam mendukung terapi jerawat sekaligus meluncurkan buku di Medan, Kamis (6/8/2026). [Ist]
Baca 10 detik
  • PT Bcrobes Medical Indonesia memaparkan riset probiotik untuk terapi jerawat dalam acara PIT IAI 2026 di Medan.
  • Uji klinis selama delapan minggu di Rumah Sakit Umum Bali Mandara menunjukkan penurunan signifikan pada skor inflamasi jerawat pasien.
  • Perusahaan meluncurkan buku edukasi kesehatan mikrobioma serta melakukan penandatanganan nota kesepahaman dengan Ikatan Apoteker Indonesia.

SuaraSumut.id - PT Bcrobes Medical Indonesia memperkenalkan hasil penelitian terbaru mengenai potensi probiotik sebagai terapi pendamping (adjuvant therapy) dalam penanganan jerawat ringan hingga sedang.

Hasil penelitian tersebut dipaparkan dalam rangkaian Pekan Ilmiah Tahunan Ikatan Apoteker Indonesia (PIT IAI) 2026 yang berlangsung pada 6-8 Agustus 2026 di Medan. Penelitian ini mengeksplorasi pendekatan berbasis mikrobioma melalui pemanfaatan probiotik dan secretome sebagai terapi pendamping dalam penanganan jerawat.

Pendekatan ini sejalan dengan berkembangnya penelitian yang melihat kesehatan kulit secara lebih menyeluruh dan membuka peluang bagi eksplorasi pendekatan baru untuk melengkapi terapi yang telah tersedia.

Prof. Dr. apt. Keri Lestari, M.Si., Guru Besar Farmakologi dan Farmasi Klinis Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran sekaligus Supervisor Research mengatakan, penelitian ini berangkat dari perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin menunjukkan adanya hubungan antara kesehatan usus dan kesehatan kulit melalui gut–skin axis.

"Kami ingin mengeksplorasi lebih jauh bagaimana pendekatan berbasis mikrobioma, termasuk penggunaan probiotik, berpotensi mendukung terapi jerawat yang telah ada," katanya.

Penelitian bertajuk “Terapi Adjuvan Berbasis Mikrobioma menggunakan Probiotik dan Secretome pada Pasien Acne Vulgaris” dilakukan melalui uji klinis acak tersamar ganda (double-blind randomized controlled trial) yang melibatkan 64 pasien berusia 13-45 tahun dengan jerawat ringan hingga sedang.

Selama delapan minggu penelitian di Departemen Dermatologi dan Venereologi Rumah Sakit Umum Bali Mandara, para peserta masing-masing menerima terapi standar jerawat, kemudian secara acak dibagi ke dalam 4 kelompok.

Semua kelompok mendapatkan terapi standar dengan tambahan (adjuvant) terapi yang berbeda, yaitu kelompok kontrol negatif memperoleh plasebo, kelompok uji dinagi menjadi tiga dengan masing-masing mendapat terapi adjuvan probiotik oral, secretome topikal, serta kombinasi probiotik oral dan secretome topikal.

Perbaikan kondisi jerawat dievaluasi menggunakan Michaelsson Acne Score, yang menilai tingkat keparahan berdasarkan jumlah dan jenis lesi jerawat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok yang menerima probiotik, secretome, maupun kombinasi probiotik dan secretome mengalami penurunan skor lesi inflamasi yang signifikan (p<0.05) dibandingkan kelompok yang hanya menerima terapi standar dengan placebo (p>0,05).

Penurunan skor inflamasi terbesar ditemukan pada kelompok kombinasi (−7,38), diikuti kelompok probiotik (−7,06) dan secretome (−4,13). Sementara itu, untuk skor total jerawat—yang mencakup lesi inflamasi dan non-inflamasi—penurunan terbesar tercatat pada kelompok probiotik (−9,25), disusul kelompok kombinasi (−8,56) dan secretome (−5,72).

"Uji klinis ini memberikan landasan saintifikasi penggunaan probiotik sebagai terapi pendamping (adjuvant terapi) pada jerawat. Tentunya hasil penelitian ini perlu dilihat sebagai bagian dari proses pengembangan bukti ilmiah yang masih terus berkembang dan tetap membutuhkan penelitian lanjutan untuk memperkuat pemahaman mengenai mekanisme maupun manfaat klinisnya," ujarnya.

Bagi Bcrobes, riset menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam mengembangkan solusi kesehatan sekaligus membangun kolaborasi dengan akademisi dan tenaga kesehatan. Prof. Dean Lee Heng Yee, Director of Bcrobes Group, mengatakan bahwa perkembangan ilmu mikrobioma membuka peluang yang semakin luas untuk memahami kesehatan manusia secara lebih komprehensif.

"Bcrobes percaya bahwa inovasi kesehatan harus berjalan bersama dengan penelitian dan bukti ilmiah. Karena itu, komitmen kami tidak berhenti pada pengembangan produk, tetapi juga mencakup dukungan terhadap penelitian, publikasi ilmiah, serta edukasi yang dapat membantu tenaga kesehatan dan masyarakat memperoleh informasi yang kredibel," ungkapnya.

Sementara itu, Dr. Kaley Oon Seok Fang, Medical Affairs Director Bcrobes, melihat temuan tersebut sebagai langkah awal untuk mengeksplorasi lebih jauh potensi probiotik dalam mendukung terapi jerawat.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini