- Wanita berinisial WLG tewas akibat luka tembak di Medan pada Minggu (2/8/2026), namun pihak keluarga meragukan penyebab kematiannya.
- Dokter forensik RSUP Adam Malik menyatakan korban mengalami luka tembak tempel di kepala tanpa adanya tanda-tanda kekerasan fisik lain.
- Tim Labfor Polda Sumut dan Polrestabes Medan menyimpulkan korban tewas bunuh diri berdasarkan uji residu tembakan dan bukti saksi.
Selain menjelaskan lintasan peluru, Mistar juga menegaskan bahwa saat melakukan pemeriksaan, ia tidak menemukan tanda-tanda kekerasan lain pada tubuh korban.
Ia mengatakan, temuan yang terlihat hanya berupa bekas luka lama yang telah dijahit pada tangan kiri bagian dalam.
"Pada waktu pemeriksaan saya tidak melihat adanya tanda-tanda kekerasan. Yang saya jumpai hanya bekas jahitan lama berwarna cokelat di tangan kiri bagian dalam," katanya.
Terkait kondisi mata korban yang tampak lebam, dr. Mistar menegaskan bahwa kondisi tersebut bukan disebabkan oleh pukulan atau kekerasan benda tumpul.
Baca Juga:Pria di Medan Ditangkap gegara Jual Video Porno Sesama Jenis Lewat Aplikasi
Ia menerangkan, lintasan peluru hingga ke dasar tengkorak menyebabkan pecahnya pembuluh darah di area sirkulus Willis, yaitu jaringan pembuluh darah di dasar otak yang memiliki percabangan menuju daerah sekitar mata.
Akibat pecahnya pembuluh darah tersebut, darah merembes ke jaringan sekitar kelopak mata sehingga menimbulkan kondisi yang dalam ilmu kedokteran forensik dikenal sebagai hematom kacamata (raccoon eyes).
"Secara visual mata lebam itu bukan karena kekerasan. Peluru berjalan sampai dasar tengkorak. Di sana ada pembuluh darah yang jika pecah akan menyebabkan hematom. Istilahnya hematom kacamata," terang Mistar.
Ia menambahkan, saat pemeriksaan luar, kondisi tersebut tidak menunjukkan ciri-ciri kekerasan fisik dari luar, melainkan merupakan akibat perdarahan internal yang dipicu oleh luka tembak di kepala.
Mistar juga mengibaratkan perubahan warna tersebut dengan lebam mayat, yang sama-sama terjadi akibat penumpukan darah pada jaringan tubuh, bukan selalu karena adanya benturan atau penganiayaan.
Baca Juga:Polisi Ungkap Kronologi-Motif Wanita Bunuh Diri Pakai Senpi di Medan
Penjelasan Tim Labfor
Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Sumatera Utara juga memaparkan hasil pemeriksaan laboratorium terhadap suami korban, korban, pakaian, hingga senjata api yang digunakan dalam peristiwa tersebut.
Pemeriksaan dilakukan melalui uji swab untuk mendeteksi keberadaan gun shot residue (GSR) atau jejak tembakan.
"Yang kami periksakan terhadap dua orang ini adalah melakukan uji swab. Kita ambil sampel mikroskopis dalam bentuk olesan yang kemudian diperiksa di mikroskop," kata Kabid Labfor Polda Sumut Kombes Rio Nababan.
Menurutnya, pemeriksaan itu bertujuan mencari GSR, yaitu partikel mikroskopis yang muncul saat amunisi ditembakkan.
"GSR atau gun shot residue adalah jejak tembakan. Ketika seseorang menembakkan senjata api, pembakaran amunisi menghasilkan lontaran partikel mikroskopis yang dapat melekat di tangan, tubuh, pakaian, maupun benda-benda di sekitarnya," ujarnya.