- Dr. Judy Ho menyatakan bahwa tindakan tersenyum dapat membantu memperbaiki suasana hati dan mengurangi respons stres.
- Tersenyum mampu memengaruhi hormon kortisol serta zat kimia otak seperti endorfin, dopamin, dan serotonin.
- Nicholas Coles mengingatkan bahwa memaksakan senyuman dapat menimbulkan ketidaknyamanan karena hilangnya kendali atas emosi.
SuaraSumut.id - Tersenyum bukan sekadar ekspresi bahagia. Gerakan sederhana dengan mengangkat sudut bibir ini ternyata berpotensi membantu memperbaiki suasana hati, mengurangi respons stres, dan mendukung kesejahteraan emosional seseorang.
Selama ini, banyak orang menganggap senyuman sebagai reaksi alami ketika merasa senang. Namun, penelitian dan pandangan sejumlah ahli psikologi menunjukkan bahwa hubungan antara ekspresi wajah dan emosi bisa berjalan dua arah. Artinya, bukan hanya perasaan bahagia yang memicu senyuman, tetapi ekspresi tersenyum juga berpotensi memengaruhi perasaan seseorang.
Neuropsikolog klinis dan forensik di Los Angeles yang juga mengajar di Pepperdine University, Dr. Judy Ho, menyampaikan senyuman sebagai salah satu strategi menghadapi masalah dengan sejumlah pasien yang mengalami depresi atau kecemasan.
“Saya tidak menyarankan bahwa itu satu-satunya cara mereka dapat memperbaiki keadaan. Ini seperti salah satu hal lain yang bisa Anda tambahkan ke dalam perangkat strategi untuk menghadapi situasi sulit,” kata Ho, melansir Antara, Senin (26/10/2026).
Menurut Ho, tersenyum dapat memengaruhi kadar kortisol, yakni hormon yang dilepaskan tubuh, antara lain untuk membantu mengatur stres dan suasana hati. Tersenyum juga dapat memengaruhi zat kimia di otak yang berkaitan dengan perasaan positif, termasuk endorfin, dopamin, dan serotonin.
“Orang-orang yang tersenyum saat melakukan tugas yang memicu stres umumnya menunjukkan detak jantung yang lebih rendah selama masa pemulihan dibandingkan mereka yang mempertahankan ekspresi wajah netral. Tersenyum juga mengurangi beberapa aspek respons stres fisiologis tubuh,” ujar Ho.
Harapannya, jika seseorang cukup sering tersenyum, akan mulai merasakan dampak positifnya secara emosional.
“Dalam beberapa hal itu seperti efek mediasi," tambah dia.
Namun, memaksakan senyuman justru bisa memicu ketidaknyamanan. Bagi sebagian orang, tuntutan untuk tersenyum dapat menjadi situasi yang serba salah. Mereka berisiko dianggap tidak ramah atau bersikap dingin jika tidak cukup sering tersenyum.
Asisten profesor yang memimpin Social Science Collaboratory di Universitas Florida, Gainesville, Nicholas Coles mengatakan orang-orang tidak menyukai perasaan seolah-olah mereka kehilangan kendali atas emosi sendiri.
“Dalam situasi seperti itu, yang kami temukan justru orang-orang seolah tersenyum sambil menuju kesengsaraan. Senyuman ketika itu terasa autentik dan dilakukan atas kemauan sendiri, saya pikir itu akan memiliki efek nyata,” kata Coles.