
"Tuduhan perusahaan (PT. Toba Pulp Lestari) merusak lingkungan tidak benar, dan tidak berdasarkan fakta di lapangan”, kata Jandres Silalahi, Direktur PT. Toba Pulp Lestari.
Hutan
"Harus kami perjuangan tanah kami ini. Tak mau aku anak dan cucuku mati sia-sia. Darimana lagi kami bisa menghidupi anak-anak kami," kata Rusmedia Lumbangaol, perempuan adat Desa Sipituhuta.
Hutan berperan penting bagi kehidupan warga adat baik untuk menopang ekonomi maupun kelestarian budaya.
Baca Juga: Luhut Hapus Indikator Kematian, PKS: Jangan-jangan Ada Pejabat Tak Percaya Covid
"Jika hutan hilang, maka ekonomi dan budaya juga ikut menghilang," kata Roganda Simanjuntak.
![Hutan lokasi areal konflik Masyarakat Adat Pandumaan-Sipituhuta dengan PT. Toba Pulp Lestari, tanaman penuh eukaliptus di lokasi PT. TPL Sektor Tele, Humbang Hasundutan. [Barita News Lumbanbatu]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2021/08/11/18460-tpl.jpg)
Menurut alumni sejarah Universitas Sumatera Utara ini, memang masih meneruskan budaya secara turun-temurun dalam mengelola hutan, ada ritual dan tradisi yang sakral.
Jandres Silalahi, Direktur PT. Toba Pulp Lestari mengatakan bahwa perusahaan itu sudah berdiri sejak tahun 2003 saat Presiden Megawati menjabat, pihaknya sangat menghormati adat isti-adat dan selalu koordinasi dengan pemuka adat setempat.
"TPL adalah objek vital karena bersifat Tbk, memiliki saham Internasional, mendapat seritfikai dan peroleh grand industri. Kami beroperasi berdasarkan izin HTI (Hutan Tanaman Industri, sesuai dengan undang undang," kata Jandres.
Menurut Roganda, TPL telah menebang pohon alam, namun dalam budaya masyarakat menebang pohon adalah suatu pantangan. Mayoritas laki-laki di desa Pandumaan-Sipituhuta bekerja sebagai petani kemenyan. Ada semacam mantra saat menderes getah kemenyan :“Parung simardagul-dagul sahali mamarung gok bahul-bahul gok ampang (sekali menderes karung pun penuh)”.
Baca Juga: AI Dapat Deteksi Tanda Psikopat Hanya dari Gerakan Kepala
Rusmedia mengaku telah menyekolahkan anak-anaknya dari hasil getah kemenyan. Harganya bisa mencapai 400 ribu rupiah per kilogramnya.
Berita Terkait
-
Subholding Pertamina Lakukan Program Kelestarian Lingkungan Laut di NTB
-
Pertamina Pastikan Kesiapan Stok BBM, LPG dan Jargas di Sumatera Utara Jelang Lebaran
-
Merawat Lingkungan dengan Cara Kekinian, Begini Cara Ajak Anak Muda Menjaga Kearifan Lokal
-
Melihat Proses Pembongkaran Hibisc Park di Bogor
-
9 Rekomendasi Wisata di Danau Toba, 'Surga' Tersembunyi yang Menarik Dijelajahi
Tag
Terpopuler
- Menguak Sisi Gelap Mobil Listrik: Pembelajaran Penting dari Tragedi Ioniq 5 N di Tol JORR
- Kode Redeem FF SG2 Gurun Pasir yang Aktif, Langsung Klaim Sekarang Hadiahnya
- Dibanderol Setara Yamaha NMAX Turbo, Motor Adventure Suzuki Ini Siap Temani Petualangan
- Daftar Lengkap HP Xiaomi yang Memenuhi Syarat Dapat HyperOS 3 Android 16
- Xiaomi 15 Ultra Bawa Performa Jempolan dan Kamera Leica, Segini Harga Jual di Indonesia
Pilihan
-
7 Rekomendasi HP 5G Murah Terupdate April 2025, Mulai Rp 2 Jutaan
-
Donald Trump Resmi Umumkan Tarif Baru, Ekonomi Indonesia Terancam Kena Dampak!
-
Antara Pangan Instan dan Kampanye Sehat, Ironi Spanduk di Pasar Tradisional
-
Link Live Streaming AC Milan vs Inter Milan: Duel Panas Derby Della Madonnina
-
FULL TIME! Yuran Fernandes Pahlawan, PSM Makassar Kalahkan CAHN FC
Terkini
-
Aceh Diguncang 46 Kali Gempa Susulan
-
Angka Kecelakaan Lalu Lintas di Sumut Turun 68 Persen
-
Bobby Nasution Imbau Warga Berhati-hati saat Berwisata: yang Punya Anak, Diperhatikan, Dijaga
-
Lebaran at The Kaldera, BPODT Hadirkan Atraksi Wisata Seru di Danau Toba
-
Tinjau Kapal Penyeberangan di Danau Toba, Bobby Nasution Temukan Kapal Tak Miliki Izin