- Masyarakat yang berkunjung ke Sumatera Utara perlu memahami lima kata kasar dalam bahasa Batak agar tidak menyinggung lawan bicara.
- Lima istilah kasar tersebut meliputi bujanginam, loak, bodat, heang, serta jampurut atau jappurut yang memiliki arti menghina.
- Wisatawan disarankan menggunakan bahasa Indonesia yang sopan dan menghindari penggunaan kata bahasa Batak yang belum diketahui maknanya.
SuaraSumut.id - Bahasa Batak memiliki kekayaan kosakata dan ragam tutur yang digunakan dalam berbagai situasi kehidupan sehari-hari. Namun, seperti bahasa daerah lainnya, terdapat pula sejumlah ungkapan yang dianggap kasar, menghina, atau tidak pantas digunakan dalam percakapan tertentu.
Bagi orang yang sedang berkunjung ke wilayah Sumatera Utara, atau memiliki teman dari kalangan masyarakat Batak, memahami penggunaan kata-kata tersebut menjadi hal penting.
Sebab, sebuah kata yang terdengar biasa bagi orang yang belum memahami konteksnya bisa saja memiliki makna yang sangat berbeda dan menyinggung lawan bicara.
Karena itu, bukan hanya arti katanya yang perlu diketahui, tetapi juga konteks penggunaan bahasa Batak dan siapa lawan bicara yang sedang dihadapi.
Berikut beberapa istilah yang dalam konteks tertentu dapat dianggap kasar atau menghina.
1. Bujanginam
Bujanginam merupakan ungkapan kasar yang mengandung unsur penghinaan terhadap seseorang. Istilah ini berkaitan dengan kata yang merujuk pada alat kelamin perempuan dan ditambahkan dengan unsur yang bermakna "ibumu".
Karena membawa unsur penghinaan terhadap anggota keluarga, kata tersebut sebaiknya tidak digunakan dalam percakapan santai, terlebih kepada orang yang belum dikenal dekat. Penggunaan istilah semacam ini dalam kondisi emosi juga berpotensi membuat persoalan menjadi lebih besar.
2. Loak
Kata loak dapat digunakan sebagai ungkapan untuk menyebut seseorang bodoh atau tidak pintar dalam konteks tertentu.
Meski terdengar singkat, menyebut seseorang dengan istilah tersebut tetap dapat dianggap merendahkan, terutama apabila disampaikan secara serius dan bukan dalam konteks candaan antarteman yang memang sudah saling memahami.
Jika ingin menyampaikan kritik, sebaiknya gunakan kalimat yang lebih halus agar pesan tetap tersampaikan tanpa menyinggung lawan bicara.
3. Bodat
Selanjutnya ada kata bodat, yang merujuk pada monyet. Dalam percakapan tertentu, istilah ini dapat digunakan sebagai bentuk ejekan terhadap perilaku seseorang. Misalnya, seseorang yang dianggap bertingkah buruk atau tidak sopan bisa saja dibandingkan dengan bodat.
Namun, menyamakan seseorang dengan hewan tentu berpotensi dianggap sebagai penghinaan. Karena itu, kata tersebut sebaiknya tidak digunakan sembarangan, terutama kepada orang yang belum dekat.